Geografi
Pulau Bali adalah bagian dari Kepulauan Sunda Kecil sepanjang 153 km dan selebar 112 km sekitar 3,2 km dari Pulau Jawa. Secara astronomis, Bali terletak di 8°25′23″ Lintang Selatan dan 115°14′55″ Lintang Timur yang mebuatnya beriklim tropis seperti bagian Indonesia yang lain.
Gunung Agung adalah titik tertinggi di Bali setinggi 3.148 m. Gunung berapi ini terakhir meletus pada Maret 1963. Gunung Batur juga salah satu gunung yang ada di Bali. Sekitar 30.000 tahun yang lalu, Gunung Batur meletus dan menghasilkan bencana yang dahsyat di bumi. Berbeda dengan di bagian utara, bagian selatan Bali adalah dataran rendah yang dialiri sungai-sungai.
Berdasarkan relief dan topografi, di tengah-tengah Pulau Bali terbentang pegunungan yang memanjang dari barat ke timur dan diantara pegunungan tersebut terdapat gugusan gunung berapi yaitu Gunung Batur dan Gunung Agung serta gunung yang tidak berapi yaitu Gunung Merbuk, Gunung Patas, dan Gunung Seraya.
Adanya pegunungan tersebut menyebabkan Daerah Bali secara Geografis terbagi menjadi 2 (dua) bagian yang tidak sama yaitu Bali Utara dengan dataran rendah yang sempit dan kurang landai, dan Bali Selatan dengan dataran rendah yang luas dan landai.
Kemiringan lahan Pulau Bali terdiri dari lahan datar (0-2%) seluas 122.652 ha, lahan bergelombang (2-15%) seluas 118.339 ha, lahan curam (15-40%) seluas 190.486 ha, dan lahan sangat curam (>40%) seluas 132.189 ha. Provinsi Bali memiliki 4 (empat) buah danau yang berlokasi di daerah pegunungan yaitu : Danau Beratan, Buyan, Tamblingan dan Danau Batur.
Ibu kota Bali adalah Denpasar. Tempat-tempat penting lainnya adalah Ubud sebagai pusat seni terletak di Kabupaten Gianyar; sedangkan Kuta, Sanur, Seminyak, Jimbaran dan Nusa Dua adalah beberapa tempat yang menjadi tujuan pariwisata, baik wisata pantai maupun tempat peristirahatan.
Luas wilayah Provinsi Bali adalah 5.636,66 km2 atau 0,29% luas wilayah Republik Indonesia. Secara administratif Provinsi Bali terbagi atas 9 kabupaten/kota, 55 kecamatan dan 701 desa/kelurahan.
Sejarah
Suku Bali adalah sukubangsa yang mendiami pulau Bali, menggunakan bahasa Bali dan mengikuti budaya Bali. Sebagian besar suku Bali beragama Hindu, kurang lebih 90%. Sedangkan sisanya beragama Buddha, Islam dan Kristen.
Ada kurang lebih 5 juta orang Bali. Sebagian besar mereka tinggal di pulau Bali, namun mereka juga tersebar di seluruh Indonesia.
Bali adalah sebuah pulau di Indonesia, sekaligus menjadi salah satu provinsi Indonesia. Bali terletak di antara Pulau Jawa dan Pulau Lombok. Ibukota provinsinya ialah Denpasar, yang terletak di bagian selatan pulau ini. Mayoritas penduduk Bali adalah pemeluk agama Hindu. Di dunia, Bali terkenal sebagai tujuan pariwisata dengan keunikan berbagai hasil seni-budayanya, khususnya bagi para wisatawan Jepang dan Australia. Bali juga dikenal sebagai Pulau Dewata.
Penghuni pertama pulau Bali diperkirakan datang pada 3000-2500 SM yang bermigrasi dari Asia. Peninggalan peralatan batu dari masa tersebut ditemukan di desa Cekik yang terletak di bagian barat pulau. Zaman prasejarah kemudian berakhir dengan datangnya orang-orang Hindu dari India pada 100 SM.[rujukan?]
Kebudayaan Bali kemudian mendapat pengaruh kuat kebudayaan India, yang prosesnya semakin cepat setelah abad ke-1 Masehi. Nama Balidwipa (pulau Bali) mulai ditemukan di berbagai prasasti, diantaranya Prasasti Blanjong yang dikeluarkan oleh Sri Kesari Warmadewa pada 913 M dan menyebutkan kata Walidwipa. Diperkirakan sekitar masa inilah sistem irigasi subak untuk penanaman padi mulai dikembangkan. Beberapa tradisi keagamaan dan budaya juga mulai berkembang pada masa itu.
Kerajaan Majapahit (1293–1500 AD) yang beragama Hindu dan berpusat di pulau Jawa, pernah mendirikan kerajaan bawahan di Bali sekitar tahun 1343 M. Saat itu hampir seluruh nusantara beragama Hindu, namun seiring datangnya Islam berdirilah kerajaan-kerajaan Islam di nusantara yang antara lain menyebabkan keruntuhan Majapahit. Banyak bangsawan, pendeta, artis, dan masyarakat Hindu lainnya yang ketika itu menyingkir dari Pulau Jawa ke Bali.
Orang Eropa yang pertama kali menemukan Bali ialah Cornelis de Houtman dari Belanda pada 1597, meskipun sebuah kapal Portugis sebelumnya pernah terdampar dekat tanjung Bukit, Jimbaran, pada 1585. Belanda lewat VOC pun mulai melaksanakan penjajahannya di tanah Bali, akan tetapi terus mendapat perlawanan sehingga sampai akhir kekuasaannya posisi mereka di Bali tidaklah sekokoh posisi mereka di Jawa atau Maluku.
Bermula dari wilayah utara Bali, semenjak 1840-an kehadiran Belanda telah menjadi permanen, yang awalnya dilakukan dengan mengadu-domba berbagai penguasa Bali yang saling tidak mempercayai satu sama lain. Belanda melakukan serangan besar lewat laut dan darat terhadap daerah Sanur, dan disusul dengan daerah Denpasar. Pihak Bali yang kalah dalam jumlah maupun persenjataan tidak ingin mengalami malu karena menyerah, sehingga menyebabkan terjadinya perang sampai mati atau puputan, yang melibatkan seluruh rakyat baik pria maupun wanita termasuk rajanya.
Diperkirakan sebanyak 4.000 orang tewas dalam peristiwa tersebut, meskipun Belanda telah memerintahkan mereka untuk menyerah. Selanjutnya, para gubernur Belanda yang memerintah hanya sedikit saja memberikan pengaruhnya di pulau ini, sehingga pengendalian lokal terhadap agama dan budaya umumnya tidak berubah.
Jepang menduduki Bali selama Perang Dunia II, dan saat itu seorang perwira militer bernama I Gusti Ngurah Rai membentuk pasukan Bali 'pejuang kemerdekaan'. Menyusul menyerahnya Jepang di Pasifik pada bulan Agustus 1945, Belanda segera kembali ke Indonesia (termasuk Bali) untuk menegakkan kembali pemerintahan kolonialnya layaknya keadaan sebelum perang. Hal ini ditentang oleh pasukan perlawanan Bali yang saat itu menggunakan senjata Jepang.
Pada 20 November 1940, pecahlah pertempuran Puputan Margarana yang terjadi di desa Marga, Kabupaten Tabanan, Bali tengah. Kolonel I Gusti Ngurah Rai, yang berusia 29 tahun, memimpin tentaranya dari wilayah timur Bali untuk melakukan serangan sampai mati pada pasukan Belanda yang bersenjata lengkap. Seluruh anggota batalion Bali tersebut tewas semuanya, dan menjadikannya sebagai perlawanan militer Bali yang terakhir.
Pada tahun 1946 Belanda menjadikan Bali sebagai salah satu dari 13 wilayah bagian dari Negara Indonesia Timur yang baru diproklamasikan, yaitu sebagai salah satu negara saingan bagi Republik Indonesia yang diproklamasikan dan dikepalai oleh Sukarno dan Hatta. Bali kemudian juga dimasukkan ke dalam Republik Indonesia Serikat ketika Belanda mengakui kemerdekaan Indonesia pada 29 Desember 1949. Tahun 1950, secara resmi Bali meninggalkan perserikatannya dengan Belanda dan secara hukum menjadi sebuah propinsi dari Republik Indonesia.
Letusan Gunung Agung yang terjadi di tahun 1963, sempat mengguncangkan perekonomian rakyat dan menyebabkan banyak penduduk Bali bertransmigrasi ke berbagai wilayah lain di Indonesia.
Tahun 1965, seiring dengan gagalnya kudeta oleh G30S terhadap pemerintah nasional di Jakarta, di Bali dan banyak daerah lainnya terjadilah penumpasan terhadap anggota dan simpatisan Partai Komunis Indonesia. Di Bali, diperkirakan lebih dari 100.000 orang terbunuh atau hilang. Meskipun demikian, kejadian-kejadian di masa awal Orde Baru tersebut sampai dengan saat ini belum berhasil diungkapkan secara hukum.[1]
Serangan teroris telah terjadi pada 12 Oktober 2002, berupa serangan Bom Bali 2002 di kawasan pariwisata Pantai Kuta, menyebabkan sebanyak 202 orang tewas dan 209 orang lainnya cedera. Serangan Bom Bali 2005 juga terjadi tiga tahun kemudian di Kuta dan pantai Jimbaran. Kejadian-kejadian tersebut mendapat liputan internasional yang luas karena sebagian besar korbannya adalah wisatawan asing, dan menyebabkan industri pariwisata Bali menghadapi tantangan berat beberapa tahun terakhir ini.
Demografi
Penduduk Bali kira-kira sejumlah 4 juta jiwa, dengan mayoritas 92,3% menganut agama Hindu. Agama lainnya adalah Islam, Protestan, Katolik, dan Buddha.
Selain dari sektor pariwisata, penduduk Bali juga hidup dari pertanian dan perikanan. Sebagian juga memilih menjadi seniman. Bahasa yang digunakan di Bali adalah Bahasa Indonesia, Bali, dan Inggris khususnya bagi yang bekerja di sektor pariwisata.
Bahasa Bali dan Bahasa Indonesia adalah bahasa yang paling luas pemakaiannya di Bali, dan sebagaimana penduduk Indonesia lainnya, sebagian besar masyarakat Bali adalah bilingual atau bahkan trilingual. Meskipun terdapat beberapa dialek dalam bahasa Bali, umumnya masyarakat Bali menggunakan sebentuk bahasa Bali pergaulan sebagai pilihan dalam berkomunikasi. Secara tradisi, penggunaan berbagai dialek bahasa Bali ditentukan berdasarkan sistem catur warna dalam agama Hindu Dharma; meskipun pelaksanaan tradisi tersebut cenderung berkurang.
Bahasa Inggris adalah bahasa ketiga (dan bahasa asing utama) bagi banyak masyarakat Bali, yang dipengaruhi oleh kebutuhan yang besar dari industri pariwisata. Para karyawan yang bekerja pada pusat-pusat informasi wisatawan di Bali, seringkali juga memahami beberapa bahasa asing dengan kompetensi yang cukup memadai.
Transportasi
Umum
Di Pulau Bali, tidak terdapat rel kereta api namun jaringan jalan sudah tersedia khususnya ke daerah-daerah tujuan wisatawan. Sebagian besar penduduk memiliki kendaraan pribadi dan memilih menggunakannya karena jalur kendaraan umum tidak tersedia dengan baik kecuali taksi.
Jenis kedaraan umum di Bali antara lain:
Dokar (Kendaraan dengan menggunakan hewan kuda sebagai alat penarik)
Ojek (Kendaraan Umum dengan menggunakan sepeda motor)
Bemo (Kendaraan Umum sejenis mikrolet)
Bemo dalam kota
Bemo luar kota (dengan jenis lebih besar)
Taksi
Bus antar kota atau kabupaten.
Bus luar pulau.
Dari dan ke
Antara Pulau Bali dan Jawa, tersedia jasa penyeberangan laut melalui pelabuhan Gilimanuk menuju Ketapang menggunakan kapal ferry yang memakan waktu antara 30 hingga 45 menit. Begitu juga dengan penyeberangan antara Pulau Bali dan Lombok, penyeberangan laut melalui pelabuhan Padang Bay menuju Lembar memakan waktu sekitar 4 jam.
Untuk transportasi udara dilayani oleh Bandara Internasional Ngurah Rai. Landas pacu dan pesawat terbang yang datang dan pergi bisa terlihat dengan jelas dari pantai.
Budaya
Musik
Musik tradisional Bali memiliki kesamaan dengan musik tradisional di banyak daerah lainnya di Indonesia, misalnya dalam penggunaan gamelan dan berbagai alat musik tabuh lainnya. Meskipun demikian, terdapat kekhasan dalam tehnik memainkan dan gubahannya, misalnya dalam bentuk kecak, yaitu sebentuk nyanyian yang konon menirukan suara kera. Demikian pula beragam gamelan yang dimainkan pun memiliki keunikan, misalnya Gamelan Jegog, Gamelan Gong Gede, Gamelan Gambang, Gamelan Selunding, dan Gamelan Semar Pegulingan. Adapula musik Angklung dimainkan untuk upacara ngaben, serta musik Bebonangan dimainkan dalam berbagai upacara lainnya.
Terdapat bentuk modern dari musik tradisional Bali, misalnya Gamelan Gong Kebyar yang merupakan musik tarian yang dikembangkan pada masa penjajahan Belanda, serta Joged Bumbung yang mulai populer di Bali sejak era tahun 1950-an. Umumnya musik Bali merupakan kombinasi dari berbagai alat musik perkusi metal (metalofon), gong, dan perkusi kayu (xilofon). Karena hubungan sosial, politik dan budaya, musik tradisional Bali atau permainan gamelan gaya Bali memberikan pengaruh atau saling mempengaruhi daerah budaya di sekitarnya, misalnya pada musik tradisional masyarakat Banyuwangi serta musik tradisional masyarakat Lombok.
Gamelan
Jegog
Genggong
Silat Bali
Tari
Seni tari Bali pada umumnya dapat dikatagorikan menjadi tiga kelompok; yaitu wali atau seni tari pertunjukan sakral, bebali atau seni tari pertunjukan untuk upacara dan juga untuk pengunjung, dan balih-balihan atau seni tari untuk hiburan pengunjung.
Pakar seni tari Bali I Made Bandem pada awal tahun 1980-an pernah menggolongkan tari-tarian Bali tersebut; antara lain yang tergolong ke dalam wali misalnya Berutuk, Sang Hyang Dedari, Rejang dan Baris Gede, bebali antara lain ialah Gambuh, Topeng Pajegan, dan Wayang Wong, sedangkan balih-balihan antara lain ialah Legong, Parwa, Arja, Prembon dan Joged, serta berbagai koreografi tari modern lainnya.
Salah satu tarian yang sangat populer bagi para wisatawan ialah Tari Kecak. Sekitar tahun 1930-an, Wayan Limbak bekerja sama dengan pelukis Jerman Walter Spies menciptakan tari ini berdasarkan tradisi Sanghyang dan bagian-bagian kisah Ramayana. Wayan Limbak mempopulerkan tari ini saat berkeliling dunia bersama rombongan penari Bali-nya.
Tarian wali
Sang Hyang Dedari
Sang Hyang Jaran
Tari Rejang
Tari Baris
Tari Janger
Tarian bebali
Tari Topeng
Gambuh
Tarian balih-balihan
Tari Legong
Arja
Joged Bumbung
Drama Gong
Barong
Tari Pendet
Tari Kecak
Calon Arang
Pakaian daerah
Pakaian daerah Bali sesungguhnya sangat bervariasi, meskipun secara selintas kelihatannya sama. Masing-masing daerah di Bali mempunyai ciri khas simbolik dan ornamen, berdasarkan kegiatan/upacara, jenis kelamin dan umur penggunanya. Status sosial dan ekonomi seseorang dapat diketahui berdasarkan corak busana dan ornamen perhiasan yang dipakainya.
Wanita
Para penari cilik mengenakan gelung, songket dan kain prada.
Busana tradisional wanita umumnya terdiri dari:
Gelung (sanggul)
Sesenteng (kemben songket)
Kain wastra
Sabuk prada (stagen), membelit pinggul dan dada
Selendang songket bahu ke bawah
Kain tapih atau sinjang, di sebelah dalam
Beragam ornamen perhiasan
Sering pula dikenakan kebaya, kain penutup dada, dan alas kaki sebagai pelengkap.
Makanan
Makanan utama
Ayam betutu
Babi guling
Bandot
Be Kokak Mekuah
Be Pasih mesambel matah
Bebek betutu
Berengkes
Grangasem
Jejeruk
Jukut Urab
Komoh
Lawar
Nasi Bubuh
Nasi Tepeng
Penyon
Sate Kablet
Sate Lilit
Sate pentul
Sate penyu
Sate Tusuk
Timbungan
Tum
Urutan Tabanan
Rumah Adat
Rumah Bali yang sesuai dengan aturan Asta Kosala Kosali (bagian Weda yang mengatur tata letak ruangan dan bangunan, layaknya Feng Shui dalam Budaya China)
Menurut filosofi masyarakat Bali, kedinamisan dalam hidup akan tercapai apabila terwujudnya hubungan yang harmonis antara aspek pawongan, palemahan, dan parahyangan. Untuk itu, pembangunan sebuah rumah harus meliputi aspek-aspek tersebut atau yang biasa disebut ‘’Tri Hita Karana’’. Pawongan merupakan para penghuni rumah. Palemahan berarti harus ada hubungan yang baik antara penghuni rumah dan lingkungannya.
Pada umumnya,bangunan atau arsitektur tradisional daerah Bali selalu dipenuhi hiasan, berupa ukiran, peralatan serta pemberian warna. Ragam hias tersebut mengandung arti tertentu sebagai ungkapan keindahan simbolsimbol dan penyampaian komunikasi. Bentuk-bentuk ragam hias dari jenis fauna juga berfungsi sebagai simbol-simbol ritual yang ditampilkan dalam patung.
Friday, April 24, 2009
ZAMAN PRASEJARAH BALI
Masa Prasejarah
Zaman prasejarah Bali merupakan awal dari sejarah masyarakat Bali, yang ditandai oleh kehidupan masyarakat pada masa itu yang belum mengenal tulisan. Walaupun pada zaman prasejarah ini belum dikenal tulisan untuk menuliskan riwayat kehidupannya, tetapi berbagai bukti tentang kehidupan pada masyarakat pada masa itu dapat pula menuturkan kembali keadaanya Zaman prasejarah berlangsung dalam kurun waktu yang cukup panjang, maka bukti-bukti yang telah ditemukan hingga sekarang sudah tentu tidak dapat memenuhi segala harapan kita.
Berkat penelitian yang tekun dan terampil dari para ahli asing khususnya bangsa Belanda dan putra-putra Indonesia maka perkembangan masa prasejarah di Bali semakin terang. Perhatian terhadap kekunaan di Bali pertama-tama diberikan oleh seorang naturalis bernama Georg Everhard Rumphius, pada tahun 1705 yang dimuat dalam bukunya Amboinsche Reteitkamer. Sebagai pionir dalam penelitian kepurbakalaan di Bali adalah W.O.J Nieuwenkamp yang mengunjungi Bali pada tahun 1906 sebagai seorang pelukis. Dia mengadakan perjalanan menjelajahi Bali. Dan memberikan beberapa catatan antara lain tentang nekara Pejeng, desa Trunyan, Pura Bukit Penulisan. Perhatian terhadap nekara Pejeng ini dilanjutkan oleh K.C Crucq tahun 1932 yang berhasil menemukan tiga bagian cetakan nekara Pejeng di Pura Desa Manuaba desa Tegallalang.
Penelitian prasejarah di Bali dilanjutkan oleh Dr. H.A.R. Van Heekeren dengan hasil tulisan yang berjudul Sarcopagus on Bali tahun 1954. Pada tahun 1963 ahli prasejarah putra Indonesia Drs. R.P. Soejono melakukan penggalian ini dilaksanakan secara berkelanjutan yaitu tahun 1973, 1974, 1984, 1985. Berdasarkan hasil-hasil penelitian yang telah dilakukan terhadap benda-benda temuan yang berasal dari tepi pantai Teluk Gilimanuk diduga bahwa lokasi Situs Gilimanuk merupakan sebuah perkampungan nelayan dari zaman perundagian di Bali. Di tempat ini sekarang berdiri sebuah museum.
Berdasarkan bukti-bukti yang telah ditemukan hingga sekarang di Bali, kehidupan masyarakat ataupun penduduk Bali pada zaman prasejarah Bali dapat dibagi menjadi :
Masa berburu dan mengumpulkan makanan tingkat sederhana
Masa berburu dan mengumpulkan makanan tingkat lanjut
Masa bercocok tanam
Masa perundagian
Masa berburu dan mengumpulkan makanan tingkat sederhana
Sisa-sisa dari kebudayaan paling awal diketahui dengan penelitian-penelitian yang dilakukan sejak tahun 1960 dengan ditemukan di desa Sambiran (Buleleng Timur), dan ditepi timur dan tenggara Danau Batur (Kintamani) alat-alat batu yang digolongkan kapak genggam, kapak berimbas, serut dan sebagainya.
Alat-alat batu yang dijumpai di kedua daerah tersebut kini disimpan di museum Gedung Arca di Bedahulu Gianyar.
Kehidupan penduduk pada masa ini adalah sederhana sekali, sepenuhnya tergantung pada alam lingkungannya.
Mereka hidup mengembara dari satu tempat ketempat lainnya.
Daerah-daerah yang dipilihnya ialah daerah yang mengandung persediaan makanan dan air yang cukup untuk menjamin kelangsungan hidupnya.
Hidup berburu dilakukan oleh kelompok kecil dan hasilnya dibagi bersama. Tugas berburu dilakukan oleh kaum laki-laki, karena pekerjaan ini memerlukan tenaga yang cukup besar untuk menghadapi segala bahaya yang mungkin terjadi.
Perempuan hanya bertugas untuk menyelesaikan pekerjaan yang ringan misalnya mengumpulkan makanan dari alam sekitarnya. Hingga saat ini belum ditemukan bukti-bukti apakah manusia pada masa itu telah mengenal bahasa sebagai alat bertutur satu sama lainnya.
Walaupun bukti-bukti yang terdapat di Bali kurang lengkap, tetapi bukti-bukti yang ditemukan di daerah Pacitan dapatlah kiranya dijadikan pedoman.
Para ahli memperkirakan bahwa alat-alat batu dari Pacitan yang sezaman dan mempunyai banyak persamaan dengan alat-alat batu dari Sembiran, dihasilkan oleh jenis manusia.
Pithecanthropus erectus atau keturunannya. Kalau demikian mungkin juga alat-alat baru dari Sambiran dihasilkan oleh manusia jenis Pithecanthropus atau keturunannya.
Masa Berburu dan mengumpulkan makanan tingkat lanjut
Pada masa ini corak hidup yang berasal dari masa sebelumnya masih berpengaruh. Hidup berburu dan mengumpulkan makanan yang terdapat dialam sekitar dilanjutkan terbukti dari bentuk alatnya yang dibuat dari batu, tulang dan kulit kerang.
Bukti-bukti mengenai kehidupan manusia pada masa mesolithik berhasil ditemukan pada tahun 1961 di Gua Selonding, Pecatu (Badung).
Goa ini terletak di Pegunungan gamping di semenanjung Benoa. Di daerah ini terdapat goa yang lebih besar ialah goa Karang Boma, tetapi goa ini tidak memberikan suatu bukti tentang kehidupan yang pernah berlangsung disana.
Dalam penggalian goa Selonding ditemukan alat-alat terdiri dari alat serpih dan serut dari batu dan sejumlah alat-alat dari tulang.
Diantara alat-alat tulang terdapat beberapa lencipan muduk yaitu sebuah alat sepanjang 5 cm yang kedua ujungnya diruncingkan.
Alat-alat semacam ini ditemukan pula di goa-goa Sulawesi Selatan pada tingkat perkembangan kebudayaan Toala dan terkenal pula di Australia Timur.
Di luar Bali ditemukan lukisan dinding-dinding goa , yang menggambarkan kehidupan sosial ekonomi dan kepercayaan masyarakat pada waktu itu.
Lukisan-lukisan di dinding goa atau di dinding-dinding karang itu antara lain yang berupa cap-cap tangan, babi rusa, burung, manusia, perahu, lambang matahari, lukisan mata dan sebagainya.
Beberapa lukisan lainnya ternyata lebih berkembang pada tradisi yang lebih kemudian dan artinya menjadi lebih terang juga diantaranya adalah lukisan kadal seperti yang terdapat di pulau Seram dan Irian Jaya, mungkin mengandung arti kekuatan magis yang dianggap sebagai penjelmaan roh nenek moyang atau kepala suku.
Masa bercocok tanam
Masa bercocok tanam lahir melalui proses yang panjang dan tak mungkin dipisahkan dari usaha manusia prasejarah dalam memenuhi kebutuhan hidupnya pada masa-masa sebelumnya.
Masa neolithik amat penting dalam sejarah perkembangan masyarakat dan peradaban, karena pada masa ini beberapa penemuan baru berupa penguasaan sumber-sumber alam bertambah cepat.
Penghidupan mengumpulkan makanan (food gathering) berubah menjadi menghasilkan makanan (food producing).
Perubahan ini sesungguhnya sangat besar artinya mengingat akibatnya yang sangat mendalam serta meluas kedalam perekonomian dan kebudayaan.
Sisa-sisa kehidupan dari masa bercocok tanam di Bali antara lain berupa kapak batu persegi dalam berbagai ukuran, belincung dan panarah batang pohon.
Dari teori Kern dan teori Von Heine Geldern diketahui bahwa nenek moyang bangsa Austronesia, yang mulai datang di kepulauan kita kira-kira 2000 tahun S.M ialah pada zaman neolithik.
Kebudayaan ini mempunyai dua cabang ialah cabang kapak persegi yang penyebarannya dari dataran Asia melalui jalan barat dan peninggalannya terutama terdapat di bagian barat Indonesia dan kapak lonjong yang penyebarannya melalui jalan timur dan peninggalan-peninggalannya merata dibagian timur negara kita.
Pendukung kebudayaan neolithik (kapak persegi) adalah bangsa Austronesia dan gelombang perpindahan pertama tadi disusul dengan perpindahan pada gelombang kedua yang terjadi pada masa perunggu kira-kira 500 S.M. Perpindahan bangsa Austronesia ke Asia Tenggara khususnya dengan memakai jenis perahu cadik yang terkenal pada masa ini.
Pada masa ini diduga telah tumbuh perdagangan dengan jalan tukar menukar barang (barter) yang diperlukan. Dalam hal ini sebagai alat berhubungan diperlukan adanya bahasa.
Para ahli berpendapat bahwa bahasa Indonesia pada masa ini adalah Melayu Polinesia atau dikenal dengan sebagai bahasa Austronesia.
Masa Perundagian
Gong, yang ditemukan pula di berbagai tempat di Nusantara, merupakan alat musik yang diperkirakan berakar dari masa perundagian.
Dalam masa neolithik manusia bertempat tinggal tetap dalam kelompok-kelompok serta mengatur kehidupannya menurut kebutuhan yang dipusatkan kepada menghasilkan bahan makanan sendiri (pertanian dan peternakan).
Dalam masa bertempat tinggal tetap ini, manusia berdaya upaya meningkatkan kegiatan-kegiatannya guna mencapai hasil yang sebesar-besarnya dalam memenuhi kebutuhan hidupnya.
Pada zaman ini jenis manusia yang mendiami Indonesia dapat diketahui dari berbagai penemuan sisa-sisa rangka dari berbagai tempat, yang terpenting diantaranya adalah temuan-temuan dari Anyer Lor (Jawa Barat), Puger (Jawa Timur), Gilimanuk (Bali) dan Melolo (Sumbawa).
Dari temuan kerangka yang banyak jumlahnya menunjukkan ciri-ciri manusia. Sedangkan penemuan di Gilimanuk dengan jumlah kerangka yang ditemukan 100 buah menunjukkan ciri Mongolaid yang kuat seperti terlihat pada gigi dan muka. Pada rangka manusia Gilimanuk terlihat penyakit gigi dan encok yang banyak menyerang manusia ketika itu.
Berdasarkan bukti-bukti yang telah ditemukan dapat diketahui bahwa dalam masyarakat Bali pada masa perundagian telah berkembang tradisi penguburan dengan cara-cara tertentu.
Adapun cara penguburan yang pertama ialah dengan mempergunakan peti mayat atau sarkofagus yang dibuat dari batu padas yang lunak atau yang keras.Cara penguburannya ialah dengan mempergunakan tempayan yang dibuat dari tanah liat seperti ditemukan di tepi pantai Gilimanuk (Jembrana).
Benda-benda temuan ditempat ini ternyata cukup menarik perhatian diantaranya terdapat hampir 100 buah kerangka manusia dewasa dan anak-anak, dalam keadaan lengkap dan tidak lengkap.
Tradisi penguburan dengan tempayan ditemukan juga di Anyer Jawa Barat, Sabang (Sulawesi Selatan), Selayar, Roti dan Melolo (Sumba). Di luar Indonesia tradisi ini berkembang di Filipina, Thailand, Jepang dan Korea.
Kebudayaan megalithik ialah kebudayaan yang terutama menghasilkan bangunan-bangunan dari batu-batu besar. Batu-batu ini mempunyai biasanya tidak dikerjakan secara halus, hanya diratakan secara kasar saja untuk mendapat bentuk yang diperlukan.
di daerah Bali tradisi megalithik masih tampak hidup dan berfungsi di dalam kehidupan masyarakat dewasa ini.
Adapun temuan yang penting ialah berupa batu berdiri (menhir) yang terdapat di Pura Ratu Gede Pancering Jagat di desa Trunyan. Di Pura in terdapat sebuah arca yang disebut arca Da Tonta yang memiliki ciri-ciri yang berasal dari masa tradisi megalithik. Arca ini tingginya hampir 4 meter.
Temuan lainnya ialah di desa Sembiran (Buleleng), yang terkenal sebagai desa Bali kuna, disamping desa-desa Trunyan dan Tenganan.
Tradisi megalithik di desa Sembiran dapat dilihat pada pura-pura yang dipuja penduduk setempat hingga dewasa ini. dari 20 buah pura ternyata 17 buah pura menunjukkan bentuk-bentuk megalithik dan pada umumnya dibuat sederhana sekali.
Diantaranya ada berbentuk teras berundak, batu berdiri dalam palinggih dan ada pula yang hanya merupakan susunan batu kali.
Temuan lainnya yang penting juga ialah berupa bangunan-bangunan megalithik yang terdapat di desa Gelgel (Klungkung).
Temuan yang penting di desa Gelgel ialah sebuah arca menhir yaitu terdapat di Pura Panataran Jro Agung.
Arca menhir ini dibuat dari batu dengan penonjolan kelamin wanita yang mengandung nilai-nilai keagamaan yang penting yaitu sebagai lambang kesuburan yang dapat memberi kehidupan kepada masyarakat.
Masuknya Agama Hindu
Berakhirnya zaman prasejarah di Indonesia ditandai dengan datangnya bangsa dan pengaruh Hindu. Pada abad-abad pertama Masehi sampai dengan lebih kurang tahun 1500, yakni dengan lenyapnya kerajaan Majapahit merupakan masa-masa pengaruh Hindu. Dengan adanya pengaruh-pengaruh dari India itu berakhirlah zaman prasejarah Indonesia karena didapatkannya keterangan tertulis yang memasukkan bangsa Indonesia ke dalam zaman sejarah.
Berdasarkan keterangan-keterangan yang ditemukan pada prasasti abad ke-8 Masehi dapatlah dikatakan bahwa periode sejarah Bali Kuno meliputi kurun waktu antara abad ke-8 Masehi sampai dengan abad ke-14 Masehi dengan datangnya ekspedisi Mahapatih Gajah Mada dari Majapahit yang dapat mengalahkan Bali. Nama Balidwipa tidaklah merupakan nama baru, namun telah ada sejak zaman dahulu. Hal ini dapat diketahui dari beberapa prasasti, di antaranya dari prasasti Blanjong yang dikeluarkan oleh Sri Kesari Warmadewa pada tahun 913 Masehi yang menyebutkan kata "Walidwipa". Demikian pula dari prasasti-prasasti Raja Jayapangus, seperti prasasti Buwahan D dan prasasti Cempaga A yang berangka tahun 1181 Masehi.
Di antara raja-raja Bali, yang banyak meninggalkan keterangan tertulis yang juga menyinggung gambaran tentang susunan pemerintahan pada masa itu adalah Udayana, Jayapangus , Jayasakti, dan Anak Wungsu. Dalam mengendalikan pemerintahan, raja dibantu oleh suatu Badan Penasihat Pusat. Dalam prasasti tertua 882 Masehi–-914 Masehi badan ini disebut dengan istilah "panglapuan". Sejak zaman Udayana, Badan Penasihat Pusat disebut dengan istilah "pakiran-kiran i jro makabaihan". Badan ini beranggotakan beberapa orang senapati dan pendeta Siwa dan Budha.
Di dalam prasasti-prasasti sebelum Raja Anak Wungsu disebut-sebut beberapa jenis seni yang ada pada waktu itu. Akan tetapi, baru pada zaman Raja Anak Wungsu, kita dapat membedakan jenis seni menjadi dua kelompok yang besar, yaitu seni keraton dan seni rakyat. Tentu saja istilah seni keraton ini tidak berarti bahwa seni itu tertutup sama sekali bagi rakyat. Kadang-kadang seni ini dipertunjukkan kepada masyarakat di desa-desa atau dengan kata lain seni keraton ini bukanlah monopoli raja-raja.
Dalam bidang agama, pengaruh zaman prasejarah, terutama dari zaman megalitikum masih terasa kuat. Kepercayaan pada zaman itu dititikberatkan kepada pemujaan roh nenek moyang yang disimboliskan dalam wujud bangunan pemujaan yang disebut teras piramid atau bangunan berundak-undak. Kadang-kadang di atas bangunan ditempatkan menhir, yaitu tiang batu monolit sebagai simbol roh nenek moyang mereka. Pada zaman Hindu hal ini terlihat pada bangunan pura yang mirip dengan pundan berundak-undak. Kepercayaan pada dewa-dewa gunung, laut, dan lainnya yang berasal dari zaman sebelum masuknya Hindu tetap tercermin dalam kehidupan masyarakat pada zaman setelah masuknya agama Hindu. Pada masa permulaan hingga masa pemerintahan Raja Sri Wijaya Mahadewi tidak diketahui dengan pasti agama yang dianut pada masa itu. Hanya dapat diketahui dari nama-nama biksu yang memakai unsur nama Siwa, sebagai contoh biksu Piwakangsita Siwa, biksu Siwanirmala, dan biksu Siwaprajna. Berdasarkan hal ini, kemungkinan agama yang berkembang pada saat itu adalah agama Siwa.
Baru pada masa pemerintahan Raja Udayana dan permaisurinya, ada dua aliran agama besar yang dipeluk oleh penduduk, yaitu agama Siwa dan agama Budha. Keterangan ini diperoleh dari prasasti-prasastinya yang menyebutkan adanya mpungku Sewasogata (Siwa-Buddha) sebagai pembantu raja.
Masa 1343-1846
Masa ini dimulai dengan kedatangan ekspedisi Gajah Mada pada tahun 1343.
Kedatangan Ekspedisi Gajah Mada
Ekspedisi Gajah Mada ke Bali dilakukan pada saat Bali diperintah oleh kerajaan Bedahulu dengan Raja Astasura Ratna Bumi Banten dan Patih Kebo Iwa. Dengan terlebih dahulu membunuh Kebo Iwa, Gajah Mada memimpin ekspedisi bersama Panglima Arya Damar dengan dibantu oleh beberapa orang Arya. Penyerangan ini mengakibatkan terjadinya pertempuran antara pasukan Gajah Mada dengan kerajaan Bedahulu. Pertempuran ini mengakibatkan raja Bedahulu dan putranya wafat. Setelah Pasung Grigis menyerah terjadi kekosongan pemerintahan di Bali. Untuk itu, Majapahit menunjuk Sri Kresna Kepakisan untuk memimpin pemerintahan di Bali dengan pertimbangan bahwa Sri Kresna Kepakisan memiliki hubungan darah dengan penduduk Bali Aga.
Zaman Gelgel
Karena ketidakcakapan Raden Agra Samprangan menjadi raja, Raden Samprangan digantikan oleh Dalem Ketut Ngulesir. Oleh Dalem Ketut Ngulesir, pusat pemerintahan dipindahkan ke Gelgel. Pada saat inilah dimulai zaman Gelgel dan Raja Dalem Ketut Ngulesir merupakan raja pertama. Raja yang kedua adalah Dalem Watu Renggong (1460--1550). Dalem Watu Renggong menaiki singgasana dengan warisan kerajaan yang stabil sehingga beliau dapat mengembangkan kecakapan dan kewibawaannya untuk memakmurkan kerajaan Gelgel. Di bawah pemerintahan Watu Renggong, Bali (Gelgel) mencapai puncak kejayaannya. Setelah Dalem Watu Renggong wafat beliau digantikan oleh Dalem Bekung (1550--1580), sedangkan raja terakhir dari zaman Gelgel adalah Dalem Di Made (1605--1686).
Zaman Kerajaan Klungkung
Kerajaan Klungkung sebenarnya merupakan kelanjutan dari Dinasti Gelgel. Pemberontakan I Gusti Agung Maruti ternyata telah mengakhiri periode Gelgel. Hal itu terjadi karena setelah putra Dalem Di Made dewasa dan dapat mengalahkan I Gusti Agung Maruti, istana Gelgel tidak dipulihkan kembali. Gusti Agung Jambe sebagai putra yang berhak atas takhta kerajaan, ternyata tidak mau bertakhta di Gelgel, tetapi memilih tempat baru sebagai pusat pemerintahan, yaitu bekas tempat persembunyiannya di Semarapura.
Dengan demikian, Dewa Agung Jambe (1710-1775) merupakan raja pertama zaman Klungkung. Raja kedua adalah Dewa Agung Di Made I, sedangkan raja Klungkung yang terakhir adalah Dewa Agung Di Made II. Pada zaman Klungkung ini wilayah kerajaan terbelah menjadi kerajaan-kerajaan kecil. Kerajaan-kerajaan kecil ini selanjutnya menjadi Swapraja (berjumlah delapan buah) yang pada zaman kemerdekaan dikenal sebagai kabupaten.
Kerajaan-kerajaan pecahan Klungkung
Kerajaan Badung, yang kemudian menjadi Kabupaten Badung.
Kerajaan Bangli, yang kemudian menjadi Kabupaten Bangli.
Kerajaan Buleleng, yang kemudian menjadi Kabupaten Buleleng.
Kerajaan Gianyar, yang kemudian menjadi Kabupaten Gianyar.
Kerajaan Karangasem, yang kemudian menjadi Kabupaten Karangasem.
Kerajaan Klungkung, yang kemudian menjadi Kabupaten Klungkung.
Kerajaan Tabanan, yang kemudian menjadi Kabupaten Tabanan.
Masa 1846-1949
Perlawanan Terhadap Orang-Orang Belanda
Masa ini merupakan masa perlawanan terhadap kedatangan bangsa Belanda di Bali. Perlawanan-perlawanan ini ditandai dengan meletusnya berbagai perang di wilayah Bali. Perlawanan-perlawanan tersebut dapat diuraikan sebagai berikut : 1. Perang Buleleng (1846) 2. Perang Jagaraga (1848--1849) 3. Perang Kusamba (1849) 4. Perang Banjar (1868) 5. Puputan Badung (1906) 6. Puputan Klungkung (1908) Dengan kemenangan Belanda dalam seluruh perang dan jatuhnya kerajaan Klungkung ke tangan Belanda, berarti secara keseluruhan Bali telah jatuh ke tangan Belanda.
Zaman Penjajahan Belanda
Sejak kerajaan Buleleng jatuh ke tangan Belanda mulailah pemerintah Belanda ikut campur mengurus soal pemerintahan di Bali. Hal ini dilaksanakan dengan mengubah nama raja sebagai penguasa daerah dengan nama regent untuk daerah Buleleng dan Jembrana serta menempatkan P.L. Van Bloemen Waanders sebagai controleur yang pertama di Bali.
Struktur pemerintahan di Bali masih berakar pada struktur pemerintahan tradisional, yaitu tetap mengaktifkan kepemimpinan tradisional dalam melaksanakan pemerintahan di daerah-daerah. Untuk di daerah Bali, kedudukan raja merupakan pemegang kekuasaan tertinggi, yang pada waktu pemerintahan kolonial didampingi oleh seorang controleur.
Di dalam bidang pertanggungjawaban, raja langsung bertanggung jawab kepada Residen Bali dan Lombok yang berkedudukan di Singaraja, sedangkan untuk Bali Selatan, raja-rajanya betanggung jawab kepada Asisten Residen yang berkedudukan di Denpasar. Untuk memenuhi kebutuhan tenaga administrasi, pemerintah Belanda telah membuka sebuah sekolah rendah yang pertama di Bali, yakni di Singaraja (1875) yang dikenal dengan nama Tweede Klasse School.
Pada tahun 1913 dibuka sebuah sekolah dengan nama Erste Inlandsche School dan kemudian disusul dengan sebuah sekolah Belanda dengan nama Hollands Inlandshe School (HIS) yang muridnya kebanyakan berasal dari anak-anak bangsawan dan golongan kaya.
Lahirnya Organisasi Pergerakan
Akibat pengaruh pendidikan yang didapat, para pemuda pelajar dan beberapa orang yang telah mendapatkan pekerjaan di kota Singaraja berinisiatif untuk mendirikan sebuah perkumpulan dengan nama "Suita Gama Tirta" yang bertujuan untuk memajukan masyarakat Bali dalam dunia ilmu pengetahuan melalui ajaran agama. Sayang perkumpulan ini tidak burumur panjang. Kemudian beberapa guru yang masih haus dengan pendidikan agama mendirikan sebuah perkumpulan yang diberi nama "Shanti" pada tahun 1923. Perkumpulan ini memiliki sebuah majalah yang bernama "Shanti Adnyana" yang kemudian berubah menjadi "Bali Adnyana".
Pada tahun 1925 di Singaraja juga didirikan sebuah perkumpulan yang diberi nama "Suryakanta" dan memiliki sebuah majalah yang diberi nama "Suryakanta". Seperti perkumpulan Shanti, Suryakanta menginginkan agar masyarakat Bali mengalami kemajuan dalam bidang pengetahuan dan menghapuskan adat istiadat yang sudah tidak sesuai dengan perkembangan zaman. Sementara itu, di Karangasem lahir suatu perhimpunan yang bernama "Satya Samudaya Baudanda Bali Lombok" yang anggotanya terdiri atas pegawai negeri dan masyarakat umum dengan tujuan menyimpan dan mengumpulkan uang untuk kepentingan studie fons.
Zaman Pendudukan Jepang
Setelah melalui beberapa pertempuran, tentara Jepang mendarat di Pantai Sanur pada tanggal 18 dan 19 Februari 1942. Dari arah Sanur ini tentara Jepang memasuki kota Denpasar dengan tidak mengalami perlawanan apa-apa. Kemudian, dari Denpasar inilah Jepang menguasai seluruh Bali. Mula-mula yang meletakkan dasar kekuasaan Jepang di Bali adalah pasukan Angkatan Darat Jepang (Rikugun). Kemudian, ketika suasana sudah stabil penguasaan pemerintahan diserahkan kepada pemerintahan sipil.
Karena selama pendudukan Jepang suasana berada dalam keadaan perang, seluruh kegiatan diarahkan pada kebutuhan perang. Para pemuda dididik untuk menjadi tentara Pembela Tanah Air (PETA). Untuk daerah Bali, PETA dibentuk pada bulan Januari tahun 1944 yang program dan syarat-syarat pendidikannya disesuaikan dengan PETA di Jawa.
Zaman Kemerdekaan
Menyusul Proklamasi Kemerdekaan Indonesia, pada tanggal 23 Agustus 1945, Mr. I Gusti Ketut Puja tiba di Bali dengan membawa mandat pengangkatannya sebagai Gubernur Sunda Kecil. Sejak kedatangan beliau inilah Proklamasi Kemerdekaan Indonesia di Bali mulai disebarluaskan sampai ke desa-desa. Pada saat itulah mulai diadakan persiapan-persiapan untuk mewujudkan susunan pemerintahan di Bali sebagai daerah Sunda Kecil dengan ibu kotanya Singaraja.
Sejak pendaratan NICA di Bali, Bali selalu menjadi arena pertempuran. Dalam pertempuran itu pasukan RI mengunakan sistem gerilya. Oleh karena itu, MBO sebagai induk pasukan selalu berpindah-pindah. Untuk memperkuat pertahanan di Bali, didatangkan bantuan ALRI dari Jawa yang kemudian menggabungkan diri ke dalam pasukan yang ada di Bali. Karena seringnya terjadi pertempuran, pihak Belanda pernah mengirim surat kepada Rai untuk mengadakan perundingan. Akan tetapi, pihak pejuang Bali tidak bersedia, bahkan terus memperkuat pertahanan dengan mengikutsertakan seluruh rakyat.
Untuk memudahkan kontak dengan Jawa, Rai pernah mengambil siasat untuk memindahkan perhatian Belanda ke bagian timur Pulau Bali. Pada 28 Mei 1946 Rai mengerahkan pasukannya menuju ke timur dan ini terkenal dengan sebutan "Long March". Selama diadakan "Long March" itu pasukan gerilya sering dihadang oleh tentara Belanda sehingga sering terjadi pertempuran. Pertempuran yang membawa kemenangan di pihak pejuang ialah pertempuran Tanah Arun, yaitu pertempuran yang terjadi di sebuah desa kecil di lereng Gunung Agung, Kabupaten Karangasem.
Dalam pertempuran Tanah Arun yang terjadi 9 Juli 1946 itu pihak Belanda banyak menjadi korban. Setelah pertempuran itu pasukan Ngurah Rai kembali menuju arah barat yang kemudian sampai di Desa Marga (Tabanan). Untuk lebih menghemat tenaga karena terbatasnya persenjataan, ada beberapa anggota pasukan terpaksa disuruh berjuang bersama-sama dengan masyarakat.
Puputan Margarana
Pada waktu staf MBO berada di desa Marga, I Gusti Ngurah Rai memerintahkan pasukannya untuk merebut senjata polisi NICA yang ada di kota Tabanan. Perintah itu dilaksanakan pada 18 November 1946 (malam hari) dan berhasil baik. Beberapa pucuk senjata beserta pelurunya dapat direbut dan seorang komandan polisi Nica ikut menggabungkan diri kepada pasukan Ngurah Rai. Setelah itu pasukan segera kembali ke Desa Marga.
Pada 20 November 1946 sejak pagi-pagi buta tentara Belanda mulai nengadakan pengurungan terhadap Desa Marga. Kurang lebih pukul 10.00 pagi mulailah terjadi tembak-menembak antara pasukan Nica dengan pasukan Ngurah Rai.
Pada pertempuran yang seru itu pasukan bagian depan Belanda banyak yang mati tertembak. Oleh karena itu, Belanda segera mendatangkan bantuan dari semua tentaranya yang berada di Bali ditambah pesawat pengebom yang didatangkan dari Makasar.
Di dalam pertempuran yang sengit itu semua anggota pasukan Ngurah Rai bertekad tidak akan mundur sampai titik darah penghabisan. Di sinilah pasukan Ngurah Rai mengadakan "Puputan" sehingga pasukan yang berjumlah 96 orang itu semuanya gugur, termasuk Ngurah Rai sendiri. Sebaliknya, di pihak Belanda ada lebih kurang 400 orang yang tewas. Untuk mengenang peristiwa tersebut kini pada bekas arena pertempuran itu didirikan Tugu Pahlawan Taman Pujaan Bangsa.
Konferensi Denpasar
Pada tanggal 18 sampai 24 Desember 1946, Konferensi denpasar berlangsung di pendopo Bali Hotel. Konferensi itu dibuka oleh Van Mook yang bertujuan untuk membentuk Negara Indonesia Timur (NIT) dengan ibu kota Makasar (Ujung Pandang).
Dengan terbentuknya Negara Indonesia Timur itu susunan pemerintahan di Bali dihidupkan kembali seperti pada zaman raja-raja dulu, yaitu pemerintahan dipegang oleh raja yang dibantu oleh patih, punggawa, perbekel, dan pemerintahan yang paling bawah adalah kelian. Di samping itu, masih ada lagi suatu dewan yang berkedudukan di atas raja, yaitu dewan raja-raja.
Penyerahan Kedaulatan
Agresi militer yang pertama terhadap pasukan pemeritahan Republik Indonesia yang berkedudukan di Yogyakarta dilancarakan oleh Belanda pada tanggal 21 Juli 1947. Belanda melancarkan lagi agresinya yang kedua 18 Desember 1948. Pada masa agresi yang kedua itu di Bali terus-menerus diusahakan berdirinya badan-badan perjuangan bersifat gerilya yang lebih efektif.
Sehubungan dengan hal itu, pada Juli 1948 dapat dibentuk organisasi perjuangan dengan nama Gerakan Rakyat Indonesia Merdeka (GRIM). Selanjutnya, tanggal 27 November 1949, GRIM menggabungkan diri dengan organisasi perjuangan lainnya dengan nama Lanjutan Perjuangan. Nama itu kemudian diubah lagi menjadi Pemerintah Darurat Republik Indonesia (PDRI) Sunda Kecil.Sementara itu, Konferensi Meja Bundar (KMB) mengenai persetujuan tentang pembentukan Uni Indonesia - Belanda dimulai sejak akhir Agustus 1949. Akhirnya, 27 Desember 1949 Belanda mengakui kedaulatan RIS. Selanjutnya, pada tanggal 17 Agustus 1950, RIS diubah menjadi Negara Kesatuan Republik Indonesia
Zaman prasejarah Bali merupakan awal dari sejarah masyarakat Bali, yang ditandai oleh kehidupan masyarakat pada masa itu yang belum mengenal tulisan. Walaupun pada zaman prasejarah ini belum dikenal tulisan untuk menuliskan riwayat kehidupannya, tetapi berbagai bukti tentang kehidupan pada masyarakat pada masa itu dapat pula menuturkan kembali keadaanya Zaman prasejarah berlangsung dalam kurun waktu yang cukup panjang, maka bukti-bukti yang telah ditemukan hingga sekarang sudah tentu tidak dapat memenuhi segala harapan kita.
Berkat penelitian yang tekun dan terampil dari para ahli asing khususnya bangsa Belanda dan putra-putra Indonesia maka perkembangan masa prasejarah di Bali semakin terang. Perhatian terhadap kekunaan di Bali pertama-tama diberikan oleh seorang naturalis bernama Georg Everhard Rumphius, pada tahun 1705 yang dimuat dalam bukunya Amboinsche Reteitkamer. Sebagai pionir dalam penelitian kepurbakalaan di Bali adalah W.O.J Nieuwenkamp yang mengunjungi Bali pada tahun 1906 sebagai seorang pelukis. Dia mengadakan perjalanan menjelajahi Bali. Dan memberikan beberapa catatan antara lain tentang nekara Pejeng, desa Trunyan, Pura Bukit Penulisan. Perhatian terhadap nekara Pejeng ini dilanjutkan oleh K.C Crucq tahun 1932 yang berhasil menemukan tiga bagian cetakan nekara Pejeng di Pura Desa Manuaba desa Tegallalang.
Penelitian prasejarah di Bali dilanjutkan oleh Dr. H.A.R. Van Heekeren dengan hasil tulisan yang berjudul Sarcopagus on Bali tahun 1954. Pada tahun 1963 ahli prasejarah putra Indonesia Drs. R.P. Soejono melakukan penggalian ini dilaksanakan secara berkelanjutan yaitu tahun 1973, 1974, 1984, 1985. Berdasarkan hasil-hasil penelitian yang telah dilakukan terhadap benda-benda temuan yang berasal dari tepi pantai Teluk Gilimanuk diduga bahwa lokasi Situs Gilimanuk merupakan sebuah perkampungan nelayan dari zaman perundagian di Bali. Di tempat ini sekarang berdiri sebuah museum.
Berdasarkan bukti-bukti yang telah ditemukan hingga sekarang di Bali, kehidupan masyarakat ataupun penduduk Bali pada zaman prasejarah Bali dapat dibagi menjadi :
Masa berburu dan mengumpulkan makanan tingkat sederhana
Masa berburu dan mengumpulkan makanan tingkat lanjut
Masa bercocok tanam
Masa perundagian
Masa berburu dan mengumpulkan makanan tingkat sederhana
Sisa-sisa dari kebudayaan paling awal diketahui dengan penelitian-penelitian yang dilakukan sejak tahun 1960 dengan ditemukan di desa Sambiran (Buleleng Timur), dan ditepi timur dan tenggara Danau Batur (Kintamani) alat-alat batu yang digolongkan kapak genggam, kapak berimbas, serut dan sebagainya.
Alat-alat batu yang dijumpai di kedua daerah tersebut kini disimpan di museum Gedung Arca di Bedahulu Gianyar.
Kehidupan penduduk pada masa ini adalah sederhana sekali, sepenuhnya tergantung pada alam lingkungannya.
Mereka hidup mengembara dari satu tempat ketempat lainnya.
Daerah-daerah yang dipilihnya ialah daerah yang mengandung persediaan makanan dan air yang cukup untuk menjamin kelangsungan hidupnya.
Hidup berburu dilakukan oleh kelompok kecil dan hasilnya dibagi bersama. Tugas berburu dilakukan oleh kaum laki-laki, karena pekerjaan ini memerlukan tenaga yang cukup besar untuk menghadapi segala bahaya yang mungkin terjadi.
Perempuan hanya bertugas untuk menyelesaikan pekerjaan yang ringan misalnya mengumpulkan makanan dari alam sekitarnya. Hingga saat ini belum ditemukan bukti-bukti apakah manusia pada masa itu telah mengenal bahasa sebagai alat bertutur satu sama lainnya.
Walaupun bukti-bukti yang terdapat di Bali kurang lengkap, tetapi bukti-bukti yang ditemukan di daerah Pacitan dapatlah kiranya dijadikan pedoman.
Para ahli memperkirakan bahwa alat-alat batu dari Pacitan yang sezaman dan mempunyai banyak persamaan dengan alat-alat batu dari Sembiran, dihasilkan oleh jenis manusia.
Pithecanthropus erectus atau keturunannya. Kalau demikian mungkin juga alat-alat baru dari Sambiran dihasilkan oleh manusia jenis Pithecanthropus atau keturunannya.
Masa Berburu dan mengumpulkan makanan tingkat lanjut
Pada masa ini corak hidup yang berasal dari masa sebelumnya masih berpengaruh. Hidup berburu dan mengumpulkan makanan yang terdapat dialam sekitar dilanjutkan terbukti dari bentuk alatnya yang dibuat dari batu, tulang dan kulit kerang.
Bukti-bukti mengenai kehidupan manusia pada masa mesolithik berhasil ditemukan pada tahun 1961 di Gua Selonding, Pecatu (Badung).
Goa ini terletak di Pegunungan gamping di semenanjung Benoa. Di daerah ini terdapat goa yang lebih besar ialah goa Karang Boma, tetapi goa ini tidak memberikan suatu bukti tentang kehidupan yang pernah berlangsung disana.
Dalam penggalian goa Selonding ditemukan alat-alat terdiri dari alat serpih dan serut dari batu dan sejumlah alat-alat dari tulang.
Diantara alat-alat tulang terdapat beberapa lencipan muduk yaitu sebuah alat sepanjang 5 cm yang kedua ujungnya diruncingkan.
Alat-alat semacam ini ditemukan pula di goa-goa Sulawesi Selatan pada tingkat perkembangan kebudayaan Toala dan terkenal pula di Australia Timur.
Di luar Bali ditemukan lukisan dinding-dinding goa , yang menggambarkan kehidupan sosial ekonomi dan kepercayaan masyarakat pada waktu itu.
Lukisan-lukisan di dinding goa atau di dinding-dinding karang itu antara lain yang berupa cap-cap tangan, babi rusa, burung, manusia, perahu, lambang matahari, lukisan mata dan sebagainya.
Beberapa lukisan lainnya ternyata lebih berkembang pada tradisi yang lebih kemudian dan artinya menjadi lebih terang juga diantaranya adalah lukisan kadal seperti yang terdapat di pulau Seram dan Irian Jaya, mungkin mengandung arti kekuatan magis yang dianggap sebagai penjelmaan roh nenek moyang atau kepala suku.
Masa bercocok tanam
Masa bercocok tanam lahir melalui proses yang panjang dan tak mungkin dipisahkan dari usaha manusia prasejarah dalam memenuhi kebutuhan hidupnya pada masa-masa sebelumnya.
Masa neolithik amat penting dalam sejarah perkembangan masyarakat dan peradaban, karena pada masa ini beberapa penemuan baru berupa penguasaan sumber-sumber alam bertambah cepat.
Penghidupan mengumpulkan makanan (food gathering) berubah menjadi menghasilkan makanan (food producing).
Perubahan ini sesungguhnya sangat besar artinya mengingat akibatnya yang sangat mendalam serta meluas kedalam perekonomian dan kebudayaan.
Sisa-sisa kehidupan dari masa bercocok tanam di Bali antara lain berupa kapak batu persegi dalam berbagai ukuran, belincung dan panarah batang pohon.
Dari teori Kern dan teori Von Heine Geldern diketahui bahwa nenek moyang bangsa Austronesia, yang mulai datang di kepulauan kita kira-kira 2000 tahun S.M ialah pada zaman neolithik.
Kebudayaan ini mempunyai dua cabang ialah cabang kapak persegi yang penyebarannya dari dataran Asia melalui jalan barat dan peninggalannya terutama terdapat di bagian barat Indonesia dan kapak lonjong yang penyebarannya melalui jalan timur dan peninggalan-peninggalannya merata dibagian timur negara kita.
Pendukung kebudayaan neolithik (kapak persegi) adalah bangsa Austronesia dan gelombang perpindahan pertama tadi disusul dengan perpindahan pada gelombang kedua yang terjadi pada masa perunggu kira-kira 500 S.M. Perpindahan bangsa Austronesia ke Asia Tenggara khususnya dengan memakai jenis perahu cadik yang terkenal pada masa ini.
Pada masa ini diduga telah tumbuh perdagangan dengan jalan tukar menukar barang (barter) yang diperlukan. Dalam hal ini sebagai alat berhubungan diperlukan adanya bahasa.
Para ahli berpendapat bahwa bahasa Indonesia pada masa ini adalah Melayu Polinesia atau dikenal dengan sebagai bahasa Austronesia.
Masa Perundagian
Gong, yang ditemukan pula di berbagai tempat di Nusantara, merupakan alat musik yang diperkirakan berakar dari masa perundagian.
Dalam masa neolithik manusia bertempat tinggal tetap dalam kelompok-kelompok serta mengatur kehidupannya menurut kebutuhan yang dipusatkan kepada menghasilkan bahan makanan sendiri (pertanian dan peternakan).
Dalam masa bertempat tinggal tetap ini, manusia berdaya upaya meningkatkan kegiatan-kegiatannya guna mencapai hasil yang sebesar-besarnya dalam memenuhi kebutuhan hidupnya.
Pada zaman ini jenis manusia yang mendiami Indonesia dapat diketahui dari berbagai penemuan sisa-sisa rangka dari berbagai tempat, yang terpenting diantaranya adalah temuan-temuan dari Anyer Lor (Jawa Barat), Puger (Jawa Timur), Gilimanuk (Bali) dan Melolo (Sumbawa).
Dari temuan kerangka yang banyak jumlahnya menunjukkan ciri-ciri manusia. Sedangkan penemuan di Gilimanuk dengan jumlah kerangka yang ditemukan 100 buah menunjukkan ciri Mongolaid yang kuat seperti terlihat pada gigi dan muka. Pada rangka manusia Gilimanuk terlihat penyakit gigi dan encok yang banyak menyerang manusia ketika itu.
Berdasarkan bukti-bukti yang telah ditemukan dapat diketahui bahwa dalam masyarakat Bali pada masa perundagian telah berkembang tradisi penguburan dengan cara-cara tertentu.
Adapun cara penguburan yang pertama ialah dengan mempergunakan peti mayat atau sarkofagus yang dibuat dari batu padas yang lunak atau yang keras.Cara penguburannya ialah dengan mempergunakan tempayan yang dibuat dari tanah liat seperti ditemukan di tepi pantai Gilimanuk (Jembrana).
Benda-benda temuan ditempat ini ternyata cukup menarik perhatian diantaranya terdapat hampir 100 buah kerangka manusia dewasa dan anak-anak, dalam keadaan lengkap dan tidak lengkap.
Tradisi penguburan dengan tempayan ditemukan juga di Anyer Jawa Barat, Sabang (Sulawesi Selatan), Selayar, Roti dan Melolo (Sumba). Di luar Indonesia tradisi ini berkembang di Filipina, Thailand, Jepang dan Korea.
Kebudayaan megalithik ialah kebudayaan yang terutama menghasilkan bangunan-bangunan dari batu-batu besar. Batu-batu ini mempunyai biasanya tidak dikerjakan secara halus, hanya diratakan secara kasar saja untuk mendapat bentuk yang diperlukan.
di daerah Bali tradisi megalithik masih tampak hidup dan berfungsi di dalam kehidupan masyarakat dewasa ini.
Adapun temuan yang penting ialah berupa batu berdiri (menhir) yang terdapat di Pura Ratu Gede Pancering Jagat di desa Trunyan. Di Pura in terdapat sebuah arca yang disebut arca Da Tonta yang memiliki ciri-ciri yang berasal dari masa tradisi megalithik. Arca ini tingginya hampir 4 meter.
Temuan lainnya ialah di desa Sembiran (Buleleng), yang terkenal sebagai desa Bali kuna, disamping desa-desa Trunyan dan Tenganan.
Tradisi megalithik di desa Sembiran dapat dilihat pada pura-pura yang dipuja penduduk setempat hingga dewasa ini. dari 20 buah pura ternyata 17 buah pura menunjukkan bentuk-bentuk megalithik dan pada umumnya dibuat sederhana sekali.
Diantaranya ada berbentuk teras berundak, batu berdiri dalam palinggih dan ada pula yang hanya merupakan susunan batu kali.
Temuan lainnya yang penting juga ialah berupa bangunan-bangunan megalithik yang terdapat di desa Gelgel (Klungkung).
Temuan yang penting di desa Gelgel ialah sebuah arca menhir yaitu terdapat di Pura Panataran Jro Agung.
Arca menhir ini dibuat dari batu dengan penonjolan kelamin wanita yang mengandung nilai-nilai keagamaan yang penting yaitu sebagai lambang kesuburan yang dapat memberi kehidupan kepada masyarakat.
Masuknya Agama Hindu
Berakhirnya zaman prasejarah di Indonesia ditandai dengan datangnya bangsa dan pengaruh Hindu. Pada abad-abad pertama Masehi sampai dengan lebih kurang tahun 1500, yakni dengan lenyapnya kerajaan Majapahit merupakan masa-masa pengaruh Hindu. Dengan adanya pengaruh-pengaruh dari India itu berakhirlah zaman prasejarah Indonesia karena didapatkannya keterangan tertulis yang memasukkan bangsa Indonesia ke dalam zaman sejarah.
Berdasarkan keterangan-keterangan yang ditemukan pada prasasti abad ke-8 Masehi dapatlah dikatakan bahwa periode sejarah Bali Kuno meliputi kurun waktu antara abad ke-8 Masehi sampai dengan abad ke-14 Masehi dengan datangnya ekspedisi Mahapatih Gajah Mada dari Majapahit yang dapat mengalahkan Bali. Nama Balidwipa tidaklah merupakan nama baru, namun telah ada sejak zaman dahulu. Hal ini dapat diketahui dari beberapa prasasti, di antaranya dari prasasti Blanjong yang dikeluarkan oleh Sri Kesari Warmadewa pada tahun 913 Masehi yang menyebutkan kata "Walidwipa". Demikian pula dari prasasti-prasasti Raja Jayapangus, seperti prasasti Buwahan D dan prasasti Cempaga A yang berangka tahun 1181 Masehi.
Di antara raja-raja Bali, yang banyak meninggalkan keterangan tertulis yang juga menyinggung gambaran tentang susunan pemerintahan pada masa itu adalah Udayana, Jayapangus , Jayasakti, dan Anak Wungsu. Dalam mengendalikan pemerintahan, raja dibantu oleh suatu Badan Penasihat Pusat. Dalam prasasti tertua 882 Masehi–-914 Masehi badan ini disebut dengan istilah "panglapuan". Sejak zaman Udayana, Badan Penasihat Pusat disebut dengan istilah "pakiran-kiran i jro makabaihan". Badan ini beranggotakan beberapa orang senapati dan pendeta Siwa dan Budha.
Di dalam prasasti-prasasti sebelum Raja Anak Wungsu disebut-sebut beberapa jenis seni yang ada pada waktu itu. Akan tetapi, baru pada zaman Raja Anak Wungsu, kita dapat membedakan jenis seni menjadi dua kelompok yang besar, yaitu seni keraton dan seni rakyat. Tentu saja istilah seni keraton ini tidak berarti bahwa seni itu tertutup sama sekali bagi rakyat. Kadang-kadang seni ini dipertunjukkan kepada masyarakat di desa-desa atau dengan kata lain seni keraton ini bukanlah monopoli raja-raja.
Dalam bidang agama, pengaruh zaman prasejarah, terutama dari zaman megalitikum masih terasa kuat. Kepercayaan pada zaman itu dititikberatkan kepada pemujaan roh nenek moyang yang disimboliskan dalam wujud bangunan pemujaan yang disebut teras piramid atau bangunan berundak-undak. Kadang-kadang di atas bangunan ditempatkan menhir, yaitu tiang batu monolit sebagai simbol roh nenek moyang mereka. Pada zaman Hindu hal ini terlihat pada bangunan pura yang mirip dengan pundan berundak-undak. Kepercayaan pada dewa-dewa gunung, laut, dan lainnya yang berasal dari zaman sebelum masuknya Hindu tetap tercermin dalam kehidupan masyarakat pada zaman setelah masuknya agama Hindu. Pada masa permulaan hingga masa pemerintahan Raja Sri Wijaya Mahadewi tidak diketahui dengan pasti agama yang dianut pada masa itu. Hanya dapat diketahui dari nama-nama biksu yang memakai unsur nama Siwa, sebagai contoh biksu Piwakangsita Siwa, biksu Siwanirmala, dan biksu Siwaprajna. Berdasarkan hal ini, kemungkinan agama yang berkembang pada saat itu adalah agama Siwa.
Baru pada masa pemerintahan Raja Udayana dan permaisurinya, ada dua aliran agama besar yang dipeluk oleh penduduk, yaitu agama Siwa dan agama Budha. Keterangan ini diperoleh dari prasasti-prasastinya yang menyebutkan adanya mpungku Sewasogata (Siwa-Buddha) sebagai pembantu raja.
Masa 1343-1846
Masa ini dimulai dengan kedatangan ekspedisi Gajah Mada pada tahun 1343.
Kedatangan Ekspedisi Gajah Mada
Ekspedisi Gajah Mada ke Bali dilakukan pada saat Bali diperintah oleh kerajaan Bedahulu dengan Raja Astasura Ratna Bumi Banten dan Patih Kebo Iwa. Dengan terlebih dahulu membunuh Kebo Iwa, Gajah Mada memimpin ekspedisi bersama Panglima Arya Damar dengan dibantu oleh beberapa orang Arya. Penyerangan ini mengakibatkan terjadinya pertempuran antara pasukan Gajah Mada dengan kerajaan Bedahulu. Pertempuran ini mengakibatkan raja Bedahulu dan putranya wafat. Setelah Pasung Grigis menyerah terjadi kekosongan pemerintahan di Bali. Untuk itu, Majapahit menunjuk Sri Kresna Kepakisan untuk memimpin pemerintahan di Bali dengan pertimbangan bahwa Sri Kresna Kepakisan memiliki hubungan darah dengan penduduk Bali Aga.
Zaman Gelgel
Karena ketidakcakapan Raden Agra Samprangan menjadi raja, Raden Samprangan digantikan oleh Dalem Ketut Ngulesir. Oleh Dalem Ketut Ngulesir, pusat pemerintahan dipindahkan ke Gelgel. Pada saat inilah dimulai zaman Gelgel dan Raja Dalem Ketut Ngulesir merupakan raja pertama. Raja yang kedua adalah Dalem Watu Renggong (1460--1550). Dalem Watu Renggong menaiki singgasana dengan warisan kerajaan yang stabil sehingga beliau dapat mengembangkan kecakapan dan kewibawaannya untuk memakmurkan kerajaan Gelgel. Di bawah pemerintahan Watu Renggong, Bali (Gelgel) mencapai puncak kejayaannya. Setelah Dalem Watu Renggong wafat beliau digantikan oleh Dalem Bekung (1550--1580), sedangkan raja terakhir dari zaman Gelgel adalah Dalem Di Made (1605--1686).
Zaman Kerajaan Klungkung
Kerajaan Klungkung sebenarnya merupakan kelanjutan dari Dinasti Gelgel. Pemberontakan I Gusti Agung Maruti ternyata telah mengakhiri periode Gelgel. Hal itu terjadi karena setelah putra Dalem Di Made dewasa dan dapat mengalahkan I Gusti Agung Maruti, istana Gelgel tidak dipulihkan kembali. Gusti Agung Jambe sebagai putra yang berhak atas takhta kerajaan, ternyata tidak mau bertakhta di Gelgel, tetapi memilih tempat baru sebagai pusat pemerintahan, yaitu bekas tempat persembunyiannya di Semarapura.
Dengan demikian, Dewa Agung Jambe (1710-1775) merupakan raja pertama zaman Klungkung. Raja kedua adalah Dewa Agung Di Made I, sedangkan raja Klungkung yang terakhir adalah Dewa Agung Di Made II. Pada zaman Klungkung ini wilayah kerajaan terbelah menjadi kerajaan-kerajaan kecil. Kerajaan-kerajaan kecil ini selanjutnya menjadi Swapraja (berjumlah delapan buah) yang pada zaman kemerdekaan dikenal sebagai kabupaten.
Kerajaan-kerajaan pecahan Klungkung
Kerajaan Badung, yang kemudian menjadi Kabupaten Badung.
Kerajaan Bangli, yang kemudian menjadi Kabupaten Bangli.
Kerajaan Buleleng, yang kemudian menjadi Kabupaten Buleleng.
Kerajaan Gianyar, yang kemudian menjadi Kabupaten Gianyar.
Kerajaan Karangasem, yang kemudian menjadi Kabupaten Karangasem.
Kerajaan Klungkung, yang kemudian menjadi Kabupaten Klungkung.
Kerajaan Tabanan, yang kemudian menjadi Kabupaten Tabanan.
Masa 1846-1949
Perlawanan Terhadap Orang-Orang Belanda
Masa ini merupakan masa perlawanan terhadap kedatangan bangsa Belanda di Bali. Perlawanan-perlawanan ini ditandai dengan meletusnya berbagai perang di wilayah Bali. Perlawanan-perlawanan tersebut dapat diuraikan sebagai berikut : 1. Perang Buleleng (1846) 2. Perang Jagaraga (1848--1849) 3. Perang Kusamba (1849) 4. Perang Banjar (1868) 5. Puputan Badung (1906) 6. Puputan Klungkung (1908) Dengan kemenangan Belanda dalam seluruh perang dan jatuhnya kerajaan Klungkung ke tangan Belanda, berarti secara keseluruhan Bali telah jatuh ke tangan Belanda.
Zaman Penjajahan Belanda
Sejak kerajaan Buleleng jatuh ke tangan Belanda mulailah pemerintah Belanda ikut campur mengurus soal pemerintahan di Bali. Hal ini dilaksanakan dengan mengubah nama raja sebagai penguasa daerah dengan nama regent untuk daerah Buleleng dan Jembrana serta menempatkan P.L. Van Bloemen Waanders sebagai controleur yang pertama di Bali.
Struktur pemerintahan di Bali masih berakar pada struktur pemerintahan tradisional, yaitu tetap mengaktifkan kepemimpinan tradisional dalam melaksanakan pemerintahan di daerah-daerah. Untuk di daerah Bali, kedudukan raja merupakan pemegang kekuasaan tertinggi, yang pada waktu pemerintahan kolonial didampingi oleh seorang controleur.
Di dalam bidang pertanggungjawaban, raja langsung bertanggung jawab kepada Residen Bali dan Lombok yang berkedudukan di Singaraja, sedangkan untuk Bali Selatan, raja-rajanya betanggung jawab kepada Asisten Residen yang berkedudukan di Denpasar. Untuk memenuhi kebutuhan tenaga administrasi, pemerintah Belanda telah membuka sebuah sekolah rendah yang pertama di Bali, yakni di Singaraja (1875) yang dikenal dengan nama Tweede Klasse School.
Pada tahun 1913 dibuka sebuah sekolah dengan nama Erste Inlandsche School dan kemudian disusul dengan sebuah sekolah Belanda dengan nama Hollands Inlandshe School (HIS) yang muridnya kebanyakan berasal dari anak-anak bangsawan dan golongan kaya.
Lahirnya Organisasi Pergerakan
Akibat pengaruh pendidikan yang didapat, para pemuda pelajar dan beberapa orang yang telah mendapatkan pekerjaan di kota Singaraja berinisiatif untuk mendirikan sebuah perkumpulan dengan nama "Suita Gama Tirta" yang bertujuan untuk memajukan masyarakat Bali dalam dunia ilmu pengetahuan melalui ajaran agama. Sayang perkumpulan ini tidak burumur panjang. Kemudian beberapa guru yang masih haus dengan pendidikan agama mendirikan sebuah perkumpulan yang diberi nama "Shanti" pada tahun 1923. Perkumpulan ini memiliki sebuah majalah yang bernama "Shanti Adnyana" yang kemudian berubah menjadi "Bali Adnyana".
Pada tahun 1925 di Singaraja juga didirikan sebuah perkumpulan yang diberi nama "Suryakanta" dan memiliki sebuah majalah yang diberi nama "Suryakanta". Seperti perkumpulan Shanti, Suryakanta menginginkan agar masyarakat Bali mengalami kemajuan dalam bidang pengetahuan dan menghapuskan adat istiadat yang sudah tidak sesuai dengan perkembangan zaman. Sementara itu, di Karangasem lahir suatu perhimpunan yang bernama "Satya Samudaya Baudanda Bali Lombok" yang anggotanya terdiri atas pegawai negeri dan masyarakat umum dengan tujuan menyimpan dan mengumpulkan uang untuk kepentingan studie fons.
Zaman Pendudukan Jepang
Setelah melalui beberapa pertempuran, tentara Jepang mendarat di Pantai Sanur pada tanggal 18 dan 19 Februari 1942. Dari arah Sanur ini tentara Jepang memasuki kota Denpasar dengan tidak mengalami perlawanan apa-apa. Kemudian, dari Denpasar inilah Jepang menguasai seluruh Bali. Mula-mula yang meletakkan dasar kekuasaan Jepang di Bali adalah pasukan Angkatan Darat Jepang (Rikugun). Kemudian, ketika suasana sudah stabil penguasaan pemerintahan diserahkan kepada pemerintahan sipil.
Karena selama pendudukan Jepang suasana berada dalam keadaan perang, seluruh kegiatan diarahkan pada kebutuhan perang. Para pemuda dididik untuk menjadi tentara Pembela Tanah Air (PETA). Untuk daerah Bali, PETA dibentuk pada bulan Januari tahun 1944 yang program dan syarat-syarat pendidikannya disesuaikan dengan PETA di Jawa.
Zaman Kemerdekaan
Menyusul Proklamasi Kemerdekaan Indonesia, pada tanggal 23 Agustus 1945, Mr. I Gusti Ketut Puja tiba di Bali dengan membawa mandat pengangkatannya sebagai Gubernur Sunda Kecil. Sejak kedatangan beliau inilah Proklamasi Kemerdekaan Indonesia di Bali mulai disebarluaskan sampai ke desa-desa. Pada saat itulah mulai diadakan persiapan-persiapan untuk mewujudkan susunan pemerintahan di Bali sebagai daerah Sunda Kecil dengan ibu kotanya Singaraja.
Sejak pendaratan NICA di Bali, Bali selalu menjadi arena pertempuran. Dalam pertempuran itu pasukan RI mengunakan sistem gerilya. Oleh karena itu, MBO sebagai induk pasukan selalu berpindah-pindah. Untuk memperkuat pertahanan di Bali, didatangkan bantuan ALRI dari Jawa yang kemudian menggabungkan diri ke dalam pasukan yang ada di Bali. Karena seringnya terjadi pertempuran, pihak Belanda pernah mengirim surat kepada Rai untuk mengadakan perundingan. Akan tetapi, pihak pejuang Bali tidak bersedia, bahkan terus memperkuat pertahanan dengan mengikutsertakan seluruh rakyat.
Untuk memudahkan kontak dengan Jawa, Rai pernah mengambil siasat untuk memindahkan perhatian Belanda ke bagian timur Pulau Bali. Pada 28 Mei 1946 Rai mengerahkan pasukannya menuju ke timur dan ini terkenal dengan sebutan "Long March". Selama diadakan "Long March" itu pasukan gerilya sering dihadang oleh tentara Belanda sehingga sering terjadi pertempuran. Pertempuran yang membawa kemenangan di pihak pejuang ialah pertempuran Tanah Arun, yaitu pertempuran yang terjadi di sebuah desa kecil di lereng Gunung Agung, Kabupaten Karangasem.
Dalam pertempuran Tanah Arun yang terjadi 9 Juli 1946 itu pihak Belanda banyak menjadi korban. Setelah pertempuran itu pasukan Ngurah Rai kembali menuju arah barat yang kemudian sampai di Desa Marga (Tabanan). Untuk lebih menghemat tenaga karena terbatasnya persenjataan, ada beberapa anggota pasukan terpaksa disuruh berjuang bersama-sama dengan masyarakat.
Puputan Margarana
Pada waktu staf MBO berada di desa Marga, I Gusti Ngurah Rai memerintahkan pasukannya untuk merebut senjata polisi NICA yang ada di kota Tabanan. Perintah itu dilaksanakan pada 18 November 1946 (malam hari) dan berhasil baik. Beberapa pucuk senjata beserta pelurunya dapat direbut dan seorang komandan polisi Nica ikut menggabungkan diri kepada pasukan Ngurah Rai. Setelah itu pasukan segera kembali ke Desa Marga.
Pada 20 November 1946 sejak pagi-pagi buta tentara Belanda mulai nengadakan pengurungan terhadap Desa Marga. Kurang lebih pukul 10.00 pagi mulailah terjadi tembak-menembak antara pasukan Nica dengan pasukan Ngurah Rai.
Pada pertempuran yang seru itu pasukan bagian depan Belanda banyak yang mati tertembak. Oleh karena itu, Belanda segera mendatangkan bantuan dari semua tentaranya yang berada di Bali ditambah pesawat pengebom yang didatangkan dari Makasar.
Di dalam pertempuran yang sengit itu semua anggota pasukan Ngurah Rai bertekad tidak akan mundur sampai titik darah penghabisan. Di sinilah pasukan Ngurah Rai mengadakan "Puputan" sehingga pasukan yang berjumlah 96 orang itu semuanya gugur, termasuk Ngurah Rai sendiri. Sebaliknya, di pihak Belanda ada lebih kurang 400 orang yang tewas. Untuk mengenang peristiwa tersebut kini pada bekas arena pertempuran itu didirikan Tugu Pahlawan Taman Pujaan Bangsa.
Konferensi Denpasar
Pada tanggal 18 sampai 24 Desember 1946, Konferensi denpasar berlangsung di pendopo Bali Hotel. Konferensi itu dibuka oleh Van Mook yang bertujuan untuk membentuk Negara Indonesia Timur (NIT) dengan ibu kota Makasar (Ujung Pandang).
Dengan terbentuknya Negara Indonesia Timur itu susunan pemerintahan di Bali dihidupkan kembali seperti pada zaman raja-raja dulu, yaitu pemerintahan dipegang oleh raja yang dibantu oleh patih, punggawa, perbekel, dan pemerintahan yang paling bawah adalah kelian. Di samping itu, masih ada lagi suatu dewan yang berkedudukan di atas raja, yaitu dewan raja-raja.
Penyerahan Kedaulatan
Agresi militer yang pertama terhadap pasukan pemeritahan Republik Indonesia yang berkedudukan di Yogyakarta dilancarakan oleh Belanda pada tanggal 21 Juli 1947. Belanda melancarkan lagi agresinya yang kedua 18 Desember 1948. Pada masa agresi yang kedua itu di Bali terus-menerus diusahakan berdirinya badan-badan perjuangan bersifat gerilya yang lebih efektif.
Sehubungan dengan hal itu, pada Juli 1948 dapat dibentuk organisasi perjuangan dengan nama Gerakan Rakyat Indonesia Merdeka (GRIM). Selanjutnya, tanggal 27 November 1949, GRIM menggabungkan diri dengan organisasi perjuangan lainnya dengan nama Lanjutan Perjuangan. Nama itu kemudian diubah lagi menjadi Pemerintah Darurat Republik Indonesia (PDRI) Sunda Kecil.Sementara itu, Konferensi Meja Bundar (KMB) mengenai persetujuan tentang pembentukan Uni Indonesia - Belanda dimulai sejak akhir Agustus 1949. Akhirnya, 27 Desember 1949 Belanda mengakui kedaulatan RIS. Selanjutnya, pada tanggal 17 Agustus 1950, RIS diubah menjadi Negara Kesatuan Republik Indonesia
MOHENJO-DARO
PLANNING SISTEM DALAM MOHENJO-DARO
• Bandar-bandar Harappa dan Mohenjo Daro di Lembah Indus dibina pada 2500 – 1900 SM di atas pelantar bata lempung besar yang melindungi penghuninya daripada banjir Jalan raya disusun mengikut sistem grid Timur-Barat & Utara-Selatan
• Rumah dua tingkat daripada bata lempung atau bata terbakar mempunyai bilik mandi yg dibekalkan air dari perigi berdekatan dan disambung kepada sistem saloran pembentungan seluruh bandar
• Bagi agama Hindu dan Buddha, manusia sentiasa sengsara dan menderita di dunia, dan hanya melalui dharma iaitu amalan baik, manusia menjadi lebih mulia dan akhirnya bebas daripada derita apabila mencapai moksa/nirvana
• Sistem kasta yang mengekalkan martabat mengikut pekerjaan asal nenek moyang menyebabkan perkembangan teknologi perlahan kerana tukang berada dalam kasta terbawah & tidak terkenal
• Teknologi besi waja atau keluli amat maju di India sejak 300 SM. Besi waja dihasilkan dengan membakar susunan berselang lapis kayu dan bijih besi dalam relau/mangkuk pijar lempung
• Bangunan di India diperbuat daripada kayu seperti kuil Hindu sebelum abad ke-3 SM dan istana Maharaja Chandragupta Maurya di Pataliputra (Patna) selepas itu mengikut struktur tiang dan palang
• Agama Buddha yang disebar ke seluruh India oleh Maharaja Asoka Maurya pada abad ke-3 SM menghasilkan 3 bangunan : biara yg terdiri daripada pondok-pondok zikir, kuil berkubah batu yg digelar stupa untuk menyimpan relik Buddha dan di Sri Lanka dan kuil gua. Kuil gua terdiri drpd dewan penyembahan panjang dengan tiang di kedua-dua sisinya dan sebuah stupa kecil di hujung
• Pembina India tidak tahu tentang gerbang Rom tetapi membina gerbang batu palsu yang sebenarnya palang di atas tiang yang diukir seperti gerbang kayu palsu dalam rumah tradisional India
• Pada abad ke-2 SM, kuil batu Hindu dan kuil gua yg terdiri drpd pintu masuk, serambi, dewan (nabdapa), bilik suci (garbagriha) yg mengandungi berhala dan menara shikkara seperti gunung Meru dibina setelah agama Hindu bangun semula
• Di selatan India (Tamil) pula kuil Hindu mepunyai empat pintu berbentuk segi-tiga yang digelar gopuram
TAMADUN MOHENJO-DARO
Tamadun Mohenjo-Daro dan Harappa juga dikenali sebagai Tamadun Indus. Tamadun ini wujud kira-kira dari tahun 2500-500 SM di sekitar Sungai Indus. Tamadun ini terdiri daripada 70 buah bandar di dataran-dataran yang direntasi oleh Sungai Indus dan Sungai Ganges di Barat Laut India. Walau bagaimanapun, hanya dua tempat sahaja mempunyai kebudayaan rumit dan jelas iaitu Mohenjo-Daro dan Harappa. Kedua-dua bandar ini juga merupakan bandar terancang yang terawal dalam sejarah manusia.
Seperti dengan tamadun yang lain, bandar negara kota ini terbentuk apabila satu perkampungan ini mengalami urbanisasi. Pembentukan ini menunjukkan corak kehidupan manusia yang semakin berorganisasi dan berkebijaksanaan. Antara negara kota ini, Harappa dan Mohenjo-Daro mempunyai struktur yang teratur.Kedua-dua bandaraya terbahagi kepada petak-petak perumahan berdasarkan corak checker-board.
Jalan raya utama amat luas dan terbentang dari Utara ke Selatan dan dari Barat ke Timur. Rumah-rumah dibina dengan batu-bata dan terletak di kedua-dua belah jalan raya. Setiap rumah ini mempunyai bilik mandi, tandas, dapur dan telaga. Selain itu, bandaraya ini mempunyai jelapang-jelapang, dewan orang ramai, kedai-kedai, sistem saluran najis di bawah tanah dan citadel yang dibina untuk didiami oleh golongan pemerintah. Seterusnya, kubu-kubu telah dibina untuk melindungi bandar-bandar ini daripada serangan musuh.
CIRI- CIRI MOHENJO-DARO
Penempatan Tetap
Penempatan tetap mula berkembang apabila perkampungan-perkampungan dengan bilangan penduduk yang kecil mula menjalankan kegiatan pertanian, penternakan dan perdagangan. Proses perubahan dan kemajuan ini dikenali sebagai proses perbandaran atau urbanisasi.
Misalnya, pertanian dan perdagangan merupakan kegiatan ekonomi Tamadun Mohenjo-Daro dan Harappa yang utama. Bekalan air yang mencukupi dan kekayaan tanaman menyebabkan pelbagai jenis tanaman dapat dihasilkan seperti gandum dan barli disamping betik, tembikai, dan kacang. Kejayaan paling memberangsangkan ialah penanaman kapas. Dengan penanaman kapas, mereka telah menjalankan perusahaan ekonomi yang melibatkan kain kapas.
Selain itu, penternakan turut dijalankan. Orang Harappa juga membela anjing, lembu dan kerbau. Unta, gajah, kuda dan keldai digunakan sebagai alat pengangkutan terutama bagi kafilah.
Perdagangan
Perdagangan yang dijalankan juga merupakan salah satu ciri perbandaran. Apabila penduduk menjalankan aktiviti perdagangan, penempatan tetap akan mula mengalami perkembangan. Sebagai contoh, perdagangan merupakan ekonomi Tamadun Mohenjo-Daro dan Harappa yang penting. Barangan utama yang diperdagangkan ialah kapas yang merupakan salah satu bahan eksport utama bagi Tamadun Indus.
Selain itu, terdapat bukti-bukti yang menunjukkan barang-barang keluaran Indus telah sampai ke Mesopotamia kira-kira antara tahun 2300 dan 2000 SM. Di samping itu, orang Barat dikatakan pernah tiba di Harappa. Kapak yang diperbuat daripada tembaga atau gangsa dijumpai di kawasan Indus menunjukkan adanya hubungan dengan Asia Barat. Dengan kehadiran benda-benda di kawasan Indus seperti lapis lazuli, jed, turquoise dan sebagainya membuktikan perdagangan yang dilakukan antara Tamadun Mohenjo-Daro dan Harappa dengan Iran, Iraq, Afghanistan Pertengahan Asia. Selain itu, Tamadun Indus juga mengamalkan industri kecil-kecilan seperti menenun kain serta pertukangan tangan.
Perancangan Bandar
Salah satu ciri perbandaran lagi ialah perancangan bandar. Bandar dirancang supaya menjadi lebih sistematik. Misalnya, bandar Harappa dan Mohenjo-Daro merupakan perancangan bandar (town planning). Bandar Mohenjo-Daro dan Harappa boleh dibahagikan kepada dua bahagian iaitu Bandar Benar (city proper) dan pusat benteng atau kubu (citadel) di Timur yang lebih kecil dan tinggi.
Terdapat juga sebuah citadel yang didiami oleh golongan pemerintah. Kesimpulannya, Tamadun Mohenjo-Daro dan Harappa memperlihatkan perancangan bandar yang sempurna.
Pembinaan Jalanraya
Pembinaan jalanraya yang sistematik dan lurus juga merupakan satu ciri perbandaran. Jalanraya dibina untuk menghubungkan satu kawasan dengan satu kawasan yang lain. Di kota Mohenjo-Daro dan Harappa, jalan utama dibina berturut-turut dari Utara ke Selatan dan ke arah Timur serta Barat.
Di Kalibangan antara jalan Utara-Selatan mempunyai 7.2 meter lebar, sedangkan jalan Utara-Selatan yang lain adalah tiga suku daripada lebarnya. Jadi, boleh dikatakan pembinaan sistem jalanraya yang lurus dan sistematik adalah ciri perbandaran yang amat penting.
Kemudahan Maju
Bandar raya yang dilengkapi kemudahan maju adalah ciri perbandaran yang ketara. Kemudahan yang sempurna memperlihatkan taraf hidup rakyat yang tinggi. Contohnya, Tamadun Mohenjo-Daro dan Harappa yang memiliki kemudahan yang maju.
Di pusat bandar, mereka membina rumah kedai dan rumah tinggal. Rumah-rumah diperbuat daripada batu-bata dan beratan serta mempunyai bilik mandi, dapur, tandas dan longkang. Bandar raya terbahagi kepada petak-petak perumabahn berdasarkan corak checker board.
Terdapat juga jelapang-jelapang, dewan orang ramai dan kedai-kedai. Bandar raya tersebut mempunyai sistem saluran najis di bawah tanah. Dengan itu, kemudahan yang ada pada Tamadun Mohenjo-Daro dan Harappa adalah agak maju.
Tumpuan Pelbagai Kegiatan
Setelah perkampungan-perkampungan berkembang menjadi sebuah bandar utama, maka bandar tersebut akan menjadi tumpuan kegiatan ekonomi, tempat pembinaan kota, istana dan tempat ibadat.
Dari segi penduduk, Mohenjo-Daro dan Harappa mempunyai 40,000 orang penduduk. Dewan orang ramai dibina supaya para penduduk dapat berhimpun bersama. Jelapang-jelapang dan kedai-kedai dibina di pusat bandar Mohenjo-Daro dan Harappa menjadikan bandar setelah tumpuan kegiatan ekonomi. Kubu-kubu Harappa menjadikan bandar sebuah tumpuan kegiatan ekonomi. Kubu-kubu dan menara-menara turut dibina untuk melindungi bandar-bandar itu daripada serangan musuh. Citadel di bandar pula merupakan tempat kediaman golongan paderi atau pendeta.
Kesimpulannya, Kota Mohenjo-Daro dan Harappa menjadi tempat pertemuan rakyat dan tempat mereka untuk menjalankan aktiviti kehidupan seharian.
Penutup
Tamadun Mohenjo-Daro dan Harappa merupakan bandar terancang yang terawal dalam sejarah manusia. Pembentukan bandar Mohenjo-Daro dan Harappa jelas memperlihatkan corak kehidupan manusia yang berorganisasi dan kebijaksanaan penduduk dalam proses perbandaran.
• Bandar-bandar Harappa dan Mohenjo Daro di Lembah Indus dibina pada 2500 – 1900 SM di atas pelantar bata lempung besar yang melindungi penghuninya daripada banjir Jalan raya disusun mengikut sistem grid Timur-Barat & Utara-Selatan
• Rumah dua tingkat daripada bata lempung atau bata terbakar mempunyai bilik mandi yg dibekalkan air dari perigi berdekatan dan disambung kepada sistem saloran pembentungan seluruh bandar
• Bagi agama Hindu dan Buddha, manusia sentiasa sengsara dan menderita di dunia, dan hanya melalui dharma iaitu amalan baik, manusia menjadi lebih mulia dan akhirnya bebas daripada derita apabila mencapai moksa/nirvana
• Sistem kasta yang mengekalkan martabat mengikut pekerjaan asal nenek moyang menyebabkan perkembangan teknologi perlahan kerana tukang berada dalam kasta terbawah & tidak terkenal
• Teknologi besi waja atau keluli amat maju di India sejak 300 SM. Besi waja dihasilkan dengan membakar susunan berselang lapis kayu dan bijih besi dalam relau/mangkuk pijar lempung
• Bangunan di India diperbuat daripada kayu seperti kuil Hindu sebelum abad ke-3 SM dan istana Maharaja Chandragupta Maurya di Pataliputra (Patna) selepas itu mengikut struktur tiang dan palang
• Agama Buddha yang disebar ke seluruh India oleh Maharaja Asoka Maurya pada abad ke-3 SM menghasilkan 3 bangunan : biara yg terdiri daripada pondok-pondok zikir, kuil berkubah batu yg digelar stupa untuk menyimpan relik Buddha dan di Sri Lanka dan kuil gua. Kuil gua terdiri drpd dewan penyembahan panjang dengan tiang di kedua-dua sisinya dan sebuah stupa kecil di hujung
• Pembina India tidak tahu tentang gerbang Rom tetapi membina gerbang batu palsu yang sebenarnya palang di atas tiang yang diukir seperti gerbang kayu palsu dalam rumah tradisional India
• Pada abad ke-2 SM, kuil batu Hindu dan kuil gua yg terdiri drpd pintu masuk, serambi, dewan (nabdapa), bilik suci (garbagriha) yg mengandungi berhala dan menara shikkara seperti gunung Meru dibina setelah agama Hindu bangun semula
• Di selatan India (Tamil) pula kuil Hindu mepunyai empat pintu berbentuk segi-tiga yang digelar gopuram
TAMADUN MOHENJO-DARO
Tamadun Mohenjo-Daro dan Harappa juga dikenali sebagai Tamadun Indus. Tamadun ini wujud kira-kira dari tahun 2500-500 SM di sekitar Sungai Indus. Tamadun ini terdiri daripada 70 buah bandar di dataran-dataran yang direntasi oleh Sungai Indus dan Sungai Ganges di Barat Laut India. Walau bagaimanapun, hanya dua tempat sahaja mempunyai kebudayaan rumit dan jelas iaitu Mohenjo-Daro dan Harappa. Kedua-dua bandar ini juga merupakan bandar terancang yang terawal dalam sejarah manusia.
Seperti dengan tamadun yang lain, bandar negara kota ini terbentuk apabila satu perkampungan ini mengalami urbanisasi. Pembentukan ini menunjukkan corak kehidupan manusia yang semakin berorganisasi dan berkebijaksanaan. Antara negara kota ini, Harappa dan Mohenjo-Daro mempunyai struktur yang teratur.Kedua-dua bandaraya terbahagi kepada petak-petak perumahan berdasarkan corak checker-board.
Jalan raya utama amat luas dan terbentang dari Utara ke Selatan dan dari Barat ke Timur. Rumah-rumah dibina dengan batu-bata dan terletak di kedua-dua belah jalan raya. Setiap rumah ini mempunyai bilik mandi, tandas, dapur dan telaga. Selain itu, bandaraya ini mempunyai jelapang-jelapang, dewan orang ramai, kedai-kedai, sistem saluran najis di bawah tanah dan citadel yang dibina untuk didiami oleh golongan pemerintah. Seterusnya, kubu-kubu telah dibina untuk melindungi bandar-bandar ini daripada serangan musuh.
CIRI- CIRI MOHENJO-DARO
Penempatan Tetap
Penempatan tetap mula berkembang apabila perkampungan-perkampungan dengan bilangan penduduk yang kecil mula menjalankan kegiatan pertanian, penternakan dan perdagangan. Proses perubahan dan kemajuan ini dikenali sebagai proses perbandaran atau urbanisasi.
Misalnya, pertanian dan perdagangan merupakan kegiatan ekonomi Tamadun Mohenjo-Daro dan Harappa yang utama. Bekalan air yang mencukupi dan kekayaan tanaman menyebabkan pelbagai jenis tanaman dapat dihasilkan seperti gandum dan barli disamping betik, tembikai, dan kacang. Kejayaan paling memberangsangkan ialah penanaman kapas. Dengan penanaman kapas, mereka telah menjalankan perusahaan ekonomi yang melibatkan kain kapas.
Selain itu, penternakan turut dijalankan. Orang Harappa juga membela anjing, lembu dan kerbau. Unta, gajah, kuda dan keldai digunakan sebagai alat pengangkutan terutama bagi kafilah.
Perdagangan
Perdagangan yang dijalankan juga merupakan salah satu ciri perbandaran. Apabila penduduk menjalankan aktiviti perdagangan, penempatan tetap akan mula mengalami perkembangan. Sebagai contoh, perdagangan merupakan ekonomi Tamadun Mohenjo-Daro dan Harappa yang penting. Barangan utama yang diperdagangkan ialah kapas yang merupakan salah satu bahan eksport utama bagi Tamadun Indus.
Selain itu, terdapat bukti-bukti yang menunjukkan barang-barang keluaran Indus telah sampai ke Mesopotamia kira-kira antara tahun 2300 dan 2000 SM. Di samping itu, orang Barat dikatakan pernah tiba di Harappa. Kapak yang diperbuat daripada tembaga atau gangsa dijumpai di kawasan Indus menunjukkan adanya hubungan dengan Asia Barat. Dengan kehadiran benda-benda di kawasan Indus seperti lapis lazuli, jed, turquoise dan sebagainya membuktikan perdagangan yang dilakukan antara Tamadun Mohenjo-Daro dan Harappa dengan Iran, Iraq, Afghanistan Pertengahan Asia. Selain itu, Tamadun Indus juga mengamalkan industri kecil-kecilan seperti menenun kain serta pertukangan tangan.
Perancangan Bandar
Salah satu ciri perbandaran lagi ialah perancangan bandar. Bandar dirancang supaya menjadi lebih sistematik. Misalnya, bandar Harappa dan Mohenjo-Daro merupakan perancangan bandar (town planning). Bandar Mohenjo-Daro dan Harappa boleh dibahagikan kepada dua bahagian iaitu Bandar Benar (city proper) dan pusat benteng atau kubu (citadel) di Timur yang lebih kecil dan tinggi.
Terdapat juga sebuah citadel yang didiami oleh golongan pemerintah. Kesimpulannya, Tamadun Mohenjo-Daro dan Harappa memperlihatkan perancangan bandar yang sempurna.
Pembinaan Jalanraya
Pembinaan jalanraya yang sistematik dan lurus juga merupakan satu ciri perbandaran. Jalanraya dibina untuk menghubungkan satu kawasan dengan satu kawasan yang lain. Di kota Mohenjo-Daro dan Harappa, jalan utama dibina berturut-turut dari Utara ke Selatan dan ke arah Timur serta Barat.
Di Kalibangan antara jalan Utara-Selatan mempunyai 7.2 meter lebar, sedangkan jalan Utara-Selatan yang lain adalah tiga suku daripada lebarnya. Jadi, boleh dikatakan pembinaan sistem jalanraya yang lurus dan sistematik adalah ciri perbandaran yang amat penting.
Kemudahan Maju
Bandar raya yang dilengkapi kemudahan maju adalah ciri perbandaran yang ketara. Kemudahan yang sempurna memperlihatkan taraf hidup rakyat yang tinggi. Contohnya, Tamadun Mohenjo-Daro dan Harappa yang memiliki kemudahan yang maju.
Di pusat bandar, mereka membina rumah kedai dan rumah tinggal. Rumah-rumah diperbuat daripada batu-bata dan beratan serta mempunyai bilik mandi, dapur, tandas dan longkang. Bandar raya terbahagi kepada petak-petak perumabahn berdasarkan corak checker board.
Terdapat juga jelapang-jelapang, dewan orang ramai dan kedai-kedai. Bandar raya tersebut mempunyai sistem saluran najis di bawah tanah. Dengan itu, kemudahan yang ada pada Tamadun Mohenjo-Daro dan Harappa adalah agak maju.
Tumpuan Pelbagai Kegiatan
Setelah perkampungan-perkampungan berkembang menjadi sebuah bandar utama, maka bandar tersebut akan menjadi tumpuan kegiatan ekonomi, tempat pembinaan kota, istana dan tempat ibadat.
Dari segi penduduk, Mohenjo-Daro dan Harappa mempunyai 40,000 orang penduduk. Dewan orang ramai dibina supaya para penduduk dapat berhimpun bersama. Jelapang-jelapang dan kedai-kedai dibina di pusat bandar Mohenjo-Daro dan Harappa menjadikan bandar setelah tumpuan kegiatan ekonomi. Kubu-kubu Harappa menjadikan bandar sebuah tumpuan kegiatan ekonomi. Kubu-kubu dan menara-menara turut dibina untuk melindungi bandar-bandar itu daripada serangan musuh. Citadel di bandar pula merupakan tempat kediaman golongan paderi atau pendeta.
Kesimpulannya, Kota Mohenjo-Daro dan Harappa menjadi tempat pertemuan rakyat dan tempat mereka untuk menjalankan aktiviti kehidupan seharian.
Penutup
Tamadun Mohenjo-Daro dan Harappa merupakan bandar terancang yang terawal dalam sejarah manusia. Pembentukan bandar Mohenjo-Daro dan Harappa jelas memperlihatkan corak kehidupan manusia yang berorganisasi dan kebijaksanaan penduduk dalam proses perbandaran.
KEUNIKAN BOROBUDUR,INDONESIA

Borobudur ialah kuil atau candi agama Buddha yang terletak di desa Boro , Kabupaten Magelang, Yogyakarya, Jawa Tengah, Indonesia. Borobudur terletak kira-kira 100 km di barat daya Semarang dan 40 km di sebelah barat laut Yogyakarta. Luasnya 2500 km persegi.
Borobudur adalah stupa Buddha mazhab Mahayana, dan monumen Buddha terbesar di dunia. Ia dibina antara tahun 750 dan 850 Masihi oleh pemerintah Jawa Dinasti Sailendra dan Sanjaya.
1950 Sejarawan J.G. de Casparis kajian Ph.D beliau menyatakan Borobudur adalah tempat pemujaan. Dengan analogi prasasti Karangtengah dan Kahulunan, Borobudur dibina oleh raja dari dinasti Syailendra bernama Samaratungga sekitar 824. Candi raksasa hanya siap 50 tahun kemudian ketika puterinya Ratu Pramodhawardhani memerintah. Kuil Borobudur dibina atas tanah bukit hanya setinggi 265 meter dari dasar laut dan 15 meter tinggi.
Jika Mesir berbangga dengan piramid dan Sphinx, China dengan Tembok Besar , Kemboja dengan Angkor Wat. Maka, warga Indonesia berbangga dengan Borobudur.
Borobudur adalah stupa Buddha mazhab Mahayana, dan monumen Buddha terbesar di dunia. Ia dibina antara tahun 750 dan 850 Masihi oleh pemerintah Jawa Dinasti Sailendra dan Sanjaya.
1950 Sejarawan J.G. de Casparis kajian Ph.D beliau menyatakan Borobudur adalah tempat pemujaan. Dengan analogi prasasti Karangtengah dan Kahulunan, Borobudur dibina oleh raja dari dinasti Syailendra bernama Samaratungga sekitar 824. Candi raksasa hanya siap 50 tahun kemudian ketika puterinya Ratu Pramodhawardhani memerintah. Kuil Borobudur dibina atas tanah bukit hanya setinggi 265 meter dari dasar laut dan 15 meter tinggi.
Jika Mesir berbangga dengan piramid dan Sphinx, China dengan Tembok Besar , Kemboja dengan Angkor Wat. Maka, warga Indonesia berbangga dengan Borobudur.


Fungsi
Borobudur dibina sebagai tempat pemujaan penganut agama Buddha kerana ketika itu seluruh pulau mistik Jawa didiami penganut Buddha. Setiap tahun, sambutan Hari Wesak telah disambut di sini pada bulan Mei. Pembinaan semula kuil Borobudur menyebabkannya semakin terkenal di kalangan penganut Buddha dari seluruh dunia. Hari Wesak adalah untuk memperingati hari kelahiran, nafas penghabisan dan masa apabila Boddhisatva menjadi Buddha.
Tetapi Borobudur tidak ada tempat pemujaan sebagaimana kuil Buddha di India atau di China.
Pengaruh Buddha dan Hindu merosot dengan ketibaan agama baru iaitu agama Islam. Sehingga kini hanya terdapat 2 juta penganut Hindu Buddha di Indonesia dengan tumpuan di pulau Bali. Selepas Islam, pengaruh Kristian turut berkembang luas di Indonesia selama 350 tahun dengan jumlah penganut seramai 5 juta orang.
Kemerosotan Borobudur semakin teruk apabila ia ditimbus oleh abu lava gunung berapi. Terdapat dua bua gunung berapa yang masih aktif iaitu Gunung Sundoro-Sumbing dan Gunung Merbabu-Merapi di Sungai Progo. Kawasan ini terpilih sebagai tempat pembinaan kuil kerana penduduknya ramai dan pertanian padi sawah dapat dijalankan kerana tanih lava gunung berapi sangat subur.
Selain kuil Borobudur adalah 2 lagi kuil di kawasan berdekatan iaitu kuil Pawon dan kuil Mendut. Menurut lisan tempatan, ada jalan selari dari kuil Borobudur ke kuil Mendut. Setiap Mei atau Jun, penganut Buddha mengerjakan perjalanan dari kuil Mendut, ke kuil Pawon dan tamat di kuil Borobudur.
Borobudur dibina sebagai tempat pemujaan penganut agama Buddha kerana ketika itu seluruh pulau mistik Jawa didiami penganut Buddha. Setiap tahun, sambutan Hari Wesak telah disambut di sini pada bulan Mei. Pembinaan semula kuil Borobudur menyebabkannya semakin terkenal di kalangan penganut Buddha dari seluruh dunia. Hari Wesak adalah untuk memperingati hari kelahiran, nafas penghabisan dan masa apabila Boddhisatva menjadi Buddha.
Tetapi Borobudur tidak ada tempat pemujaan sebagaimana kuil Buddha di India atau di China.
Pengaruh Buddha dan Hindu merosot dengan ketibaan agama baru iaitu agama Islam. Sehingga kini hanya terdapat 2 juta penganut Hindu Buddha di Indonesia dengan tumpuan di pulau Bali. Selepas Islam, pengaruh Kristian turut berkembang luas di Indonesia selama 350 tahun dengan jumlah penganut seramai 5 juta orang.
Kemerosotan Borobudur semakin teruk apabila ia ditimbus oleh abu lava gunung berapi. Terdapat dua bua gunung berapa yang masih aktif iaitu Gunung Sundoro-Sumbing dan Gunung Merbabu-Merapi di Sungai Progo. Kawasan ini terpilih sebagai tempat pembinaan kuil kerana penduduknya ramai dan pertanian padi sawah dapat dijalankan kerana tanih lava gunung berapi sangat subur.
Selain kuil Borobudur adalah 2 lagi kuil di kawasan berdekatan iaitu kuil Pawon dan kuil Mendut. Menurut lisan tempatan, ada jalan selari dari kuil Borobudur ke kuil Mendut. Setiap Mei atau Jun, penganut Buddha mengerjakan perjalanan dari kuil Mendut, ke kuil Pawon dan tamat di kuil Borobudur.

Etimologi
Istilah Borobudur tidak dapat dikesan dalam mana-mana artifak kecuali catatan Sir Thomas Stamford Raffles saja antara 1814-1816 iaitu ketika British mengambilalih sementara Bangkahulu dari Belanda.
Asal usul istilah Borobudur ini tidak jelas kerana penduduk setempat tidak lagi menjadi penganut agama Buddha. Penduduk pulau mistik Jawa telah lama melupakan agama Buddha. Kita akan merasa aneh akan kewujudan kuil Buddha ini kerana 99% penduduk Indonesia beragama Islam.
Bore ialah ‘nama sebuah kampung’ di situ. Budur ialah ‘candi’. Jadi Borobudur bermaksud Candi Bore. Biasanya setiap candi dinamakan sempena nama sesebuah kampung berdekatan. Sepatutnya Raffle menulis ‘BudurBoro’, bukan ‘Borobudur’.
Dalam manuskrip Nagarakartagama yang menggunakan bahasa Jawa kuno, karya Mpu Prapanca pada 1365 menyatakan ‘Budur’ sebagai Budha. Jadi diandaikan ‘Budur’ dikaitkan dengan ajaran Buddha.
Borobudur juga dikatkan dengan Sambharabhudhara yang bermaksud “gunung” (bhudara) di mana di lereng-lerengnya terletak teras-teras.
Borobudur dikatakan perubahan sebutan “para Buddha” menjadi borobudur atau ‘budha’.
Dalam bahasa sanskrit dan Bali, Boro bermaksud ‘kompleks candi’ atau biara. Beduhur bermaksud “tinggi” atau di atas tanah tinggi.
Struktur Borobudur
Borobudur berbentuk gunung 6 segi bujur dan mempunyai 3 tingkat. Pada puncak Borobudur ada stupa induk berbentuk loceng berlubang-lubang. Bahagian paling utama terletak di bahagian puncak yang dikelilingi oleh 72 patung Buddha. Setiap patung Buddha terletak dalam stupa loceng yang berlubang-lubang.
Borobudur ini dihiasai dengan 2672 arca dan 504 patung Buddha. Monumen ini menjadi tempat utama Lord Buddha dan tempat perjalanan pemujaan terpenting penganut Buddha di Indonesia dan dunia. Semasa mendaki, mengelilingi Borobudur menuju Buddha, terdapat 1460 keping arca pada dinding dan hiasan balustrades.
Kosmologi Buddha
Borobudur direka sebagai mandala gergasi, lambang laluan bodhisattva dari samsara kepada nirvana, melalui cerita Sudhana yang digambarkan dalam Gandavyuha Sutra, sebahagian dari Avatamsaka Sutra.
Stupa mengandungi lima tingkat :
Empat yang pertama mengandungi patung Buddha sambhoga-kaya keempat penjuru (seperti Amitabha dan Aksobhya), dari pantheon Mahayana. Tingkat ke lima khas bagi menggambarkan Buddha Vairocana, yang biasanya dikaitkan dengan pusat.
Tingkat kelima dilitupi dengan tiga pelantar bulat, dimana 72 stupa diatur mengelilingi satu stupa besar ditengah.
Sepanjang stupa, dinding-dindingnya dihiasi dengan ukiran arca menggambarkan kehidupan Buddha Shakyamuni dan Mahayana Sutras.
Arca dinding
Terdapat lebih 2672 arca dinding pelbagai aktiviti manusia dan haiwan dan 504 stupa loceng.
Di setiap tingkat, arca-arca dipahat pada ketulan-ketulan baru tumpat dan disusun sehingga menjadi sebuah cerita dan pengajaran bagi mereka yang rajin mengkaji dan mentelaah
Semua arca ini di susun dari kiri ke kanan dan hendaklah dilihat dari kiri ke kanan, mengikut jarum jam atau mapradaksina dalam bahasa bahasa Jawa kuno . Cerita-cerita ini berdasarkan kitab Ramayana dan Jataka. Arca ini bermula dari kiri pintu gerbang dan berakhir di kanan pintu gerbang. Candi ini menghadap ke timur, walaupun pandangan sisi kelihatan sama sahaja.
Secara keseluruhan arca yang terdapat di dinding Borobudur menggambarkan hukum karma . Semua arca bukanlah cerita bersiri kerana setiap pigura boleh berdiri sendiri sebagai satu cerita sebab akibat. Ada gambaran hukuman yang akan direrima jika membuat dosa dan mendapat balasan baik jika membuat kebajikan. (Hukum karma bermaksud buat baik dibalas baik, buat jahat di balas jahat). Rangkaian cerita Buddha ini berakhir dengan tingkat tertinggi iaitu menuju kesempurnaan.
Sejarah arkeologi
Peringkat pertama : Borobudur dibina sekitar tahun 750 dan 850 masehi, berbentuk piramid bertingkat-tingkat, disediakan lorong berjalan kaki. Borobudur tidak dapat disiapkan oleh raja Sailendra yang pertama. Sebalik nya disiapkan 50 tahun kemudian, pada masa pemerintahan puterinya memerintah selepas itu.
Peringkat kedua: Saiz Borobudur dilebarkan dan ditambah 2 tingkat dan satu stupa induk.
Peringkar ketiga : Stupa induk diruntuhkan dan diganti dengan tiga lapis dan setiap lapis dibina deretan stupa loceng dan satu stupa induk.
Peringkat keempat: perubahan pada arca di tangga dan pintu gerbang.
Sejarawan mengaitkan terbengkalainya pembinaan Borobudur kerana kemerosotan pengaruh Hindu Buddha berikutan kedatangan agama Islam ke Jawan Tengah pada kurun ke-14
Peringkat kedua: Saiz Borobudur dilebarkan dan ditambah 2 tingkat dan satu stupa induk.
Peringkar ketiga : Stupa induk diruntuhkan dan diganti dengan tiga lapis dan setiap lapis dibina deretan stupa loceng dan satu stupa induk.
Peringkat keempat: perubahan pada arca di tangga dan pintu gerbang.
Sejarawan mengaitkan terbengkalainya pembinaan Borobudur kerana kemerosotan pengaruh Hindu Buddha berikutan kedatangan agama Islam ke Jawan Tengah pada kurun ke-14
Senibina
Borobudur apabila dilihat dari atas kelihatan seperti gergasi Buddha mandala dan sesuai dengan kosmologi Buddha dan ciri-ciri otak manusia. Berbentuk empat segi dan ketinggian 118 meter. Ada 72 stupa berbentuk loceng berlubang-lubang dan di dalam stupa itu ada patung Buddha sedang berehat.
Kira-kira 55,000 meter padu batu konkrit digunakan untuk membna bangunan Borobudur ini. Batu-bata ini diangkut melalui sungai dan mengambil masa 75 tahun untuk disiapkan.
Sistem saliran dan perparitan di sekitar Borobudur amat baik. Ada 100 muncung berlubang untuk air larian. Setiap muncung ini diukir kepala gargoil (makaras).
Borobudur dibina atas sebuah bukit semulajadi dan tidak sama dengan kuil-kuil Buddha di India dan China. Tetapi teknik bangunan sama dengan kuil-kuil lain di Indonesia.
Satu stupa dikatakan mewakili satu makam untuk Lord Buddha. Setiap kuil merupakan rumah dewa. Tetapi ada yang mempertikaikan ia sebuah kuil kerana ada ritual berbentuk ‘perjalanan haji’. Mereka akan berjalan mengikut anak tangga.

Kira-kira 55,000 meter padu batu konkrit digunakan untuk membna bangunan Borobudur ini. Batu-bata ini diangkut melalui sungai dan mengambil masa 75 tahun untuk disiapkan.
Sistem saliran dan perparitan di sekitar Borobudur amat baik. Ada 100 muncung berlubang untuk air larian. Setiap muncung ini diukir kepala gargoil (makaras).
Borobudur dibina atas sebuah bukit semulajadi dan tidak sama dengan kuil-kuil Buddha di India dan China. Tetapi teknik bangunan sama dengan kuil-kuil lain di Indonesia.
Satu stupa dikatakan mewakili satu makam untuk Lord Buddha. Setiap kuil merupakan rumah dewa. Tetapi ada yang mempertikaikan ia sebuah kuil kerana ada ritual berbentuk ‘perjalanan haji’. Mereka akan berjalan mengikut anak tangga.

Kajian Arkeologi
Selama beberapa abad, Borobudur tertimbus oleh lava debu gunung berapi sekitar 1006 Masihi. Sejak itu Borobudur berhenti menjadi tempat pemujaan dan perjalanan penganut Buddha. Penduduk Magelang dikatakan berhijrah ke Jawa Timur berdekatan dengan Brantas pada 928 Masihi. Selepas itu penduduk tempatan mengaitkan stupa besar dengan pelbagai cerita tahyul dan mistik - terutama selepas terjadi kemalangan, pendertaan dan punca kematian.
Contohnya tahun 1709, kematian pemberontak terhadap Raja Mataram telah mati dan dikaitkan dengan stupa besar.
Persoalan timbul, adakah Borobudur dibubarkan setelah mereka menganut agama Islam pada abad ke-15.
Tidak ada catatan jelas tentang siapa yang membina Borobudur ini. Sejarawan hanya mengandaikan Borobudur dibina oleh salah seorang raja Dinasti Sailendra antara 760-830 Masihi. Sailendra adalah serpihan daripada kerajaan Sriwijaya yang berugama Hindu Buddha. Pembinaan mengambil masa 75 tahun dan siap semasa Maharaja Samaratunga, Empayar Sriwijaya.
Ada kekeliruan sama ada raja Salendra yang berugama Buddha yang membina Borobudur. Tetapi artifak yang ditemui di Sojomerto menunjukkan mereka beragama Hindu, Ini tidak menghairankan kerana terdapat banyak kuil Buddha dan Hindu di Lembah Kedu itu. Kuil Borobudur dibina sezaman dengan pembinaan kuil Hindu Shiva Prambanan.
Contohnya tahun 1709, kematian pemberontak terhadap Raja Mataram telah mati dan dikaitkan dengan stupa besar.
Persoalan timbul, adakah Borobudur dibubarkan setelah mereka menganut agama Islam pada abad ke-15.
Tidak ada catatan jelas tentang siapa yang membina Borobudur ini. Sejarawan hanya mengandaikan Borobudur dibina oleh salah seorang raja Dinasti Sailendra antara 760-830 Masihi. Sailendra adalah serpihan daripada kerajaan Sriwijaya yang berugama Hindu Buddha. Pembinaan mengambil masa 75 tahun dan siap semasa Maharaja Samaratunga, Empayar Sriwijaya.
Ada kekeliruan sama ada raja Salendra yang berugama Buddha yang membina Borobudur. Tetapi artifak yang ditemui di Sojomerto menunjukkan mereka beragama Hindu, Ini tidak menghairankan kerana terdapat banyak kuil Buddha dan Hindu di Lembah Kedu itu. Kuil Borobudur dibina sezaman dengan pembinaan kuil Hindu Shiva Prambanan.
732 Masihi - Raja Sanjaya selaku pengasas Dinasti Sailendra mengarah atau menaungi pembinaan kuil Hindu Shiva lingga di atas sebuah kuil, hanya 10 km di timur Borobudur. Sejarawan mendapati tidak ada konflik antara agama Hindu dan Buddha. Kemungkinan raja Hindu menaungi pembinaan kuil Buddha dan sebaliknya.
1811-1816 - Belanda telah berperang dengan Perancis. Demi keselamatan, Jawa sebagai tanah jajajah telah diserahkan kepada British buat sementara waktu sehingga peperangan selesai.
1814 - Sir Thomas Stamford Raffles, Gabenor Jeneral British di Jawa telah mendapat berita tentang penemuan sebuah monumen di desa Boro, Kabupaten Magelang, Semarang, Jawa Tengah. Beliau berminat dalam sejarah Jawa. Pelbagai artifak, barang antik , buku dan surat-surat lama telah dikumpulkan dan dibawa ke Singapura. Dia telah mengarahkan H.C. Cornelius seorang jurutera Belanda untuk menyiasat lokasi tersebut yang penuh semak samun dan sebahagian telah diliputi abu lava gunung berapi.
1931 - pelukis Belanda berugama Hindu Buddha bernama W.O.J. Nieuwenkamp menyatakan teori bahawa Lembah Kedu asalnya sebuah tasik dan Borobudur bagai bunga teratai yang terapung-apung menghiasi tengah tasik tersebut. Bunga teratai selalu terdapat di mana-mana kuil Buddha, contohnya di Angkor Wat, Siem Reap, Kemboja. Roda dharma Buddha pecah lapan juga berasaskan bunga teratai ini.
1835 - tapak tersebut dibersihkan.
1873 - monograf pertama tentang candi Borobudur diterbitkan dalam bahasa Belanda. Monograf ini berdasarkan laporan oleh Corrnellius, Hartmans dan FC Wilsen 1853 dan JFG Brumund. Gambar foto pertama dirakam pada 1873 oleh Isidore van Kinsbergen.
1882 Belanda telah menugaskan arkeologis Groenveldt untuk menilai keadaan sebenar monumen itu.
1900 - Ketua Hindia Belanda berasa bertanggungjawab memulihara candi Borobudur dan menubuhkan pasukan kahas.
1907 - Theodoor van Erp mengetuai pasukan menggali dan memulihara hingga tahun 1911.
1926 - Borobudur digali lagi tetapi terbengkalai kerana Perang Dunia Kedua tahun 1941.
1956 - Kerajaan Indonesia merayu bantuan UNESCO. Profesor Dr. C. Coremans dari Belgium ditugaskan menyiasat punca kerosakan dan mencari jalan pemuliharaan.
1963 - Kerajaan Indonesia pimpinan Presiden Sukarnoi setuju Borobudur dipugar dan dibina semula. Namun peristiwa Gestapo 30 September menyebabkan kerja-kerja tergendala.
1968 - Dalam Persidangan UNESCO ke-15 di Paris, Perancis, peruntukan kewangan dan tenaga profesional akan diberi kepada Indonesia bagi menyelamatkan monumen purba itu. Borobudur diwartakan sebagai Keajaipan Dunia.
1971 - Kerajaan Indonesia melantik pasukan diketuai Profesor Ir.Roosseno untuk memulihara Borobudur.
1972 - Jawatankuasa Perunding Antarabangsa UNESCO yang diketuai oleh Roosseno memulakan kajian dan kerja menyelamatkan Borobudur. Kos operasi sebanyak ASD 7.750 juta. ASD 5 juta disediakan oleh UNESCO dan selebihnya oleh Indonesia sendiri.
10 Ogos 1973 - Presiden Soeharto merasmikan kerja-kerja pemuliharaan Borobudur dan siap tahun 1984
21 Januari 1985 - Sembilan stupa loceng di Borobudur telah dibom oleh 9 butir bom. Pada 1991, seorang mubaligh Islam, Husein Ali Al Habsyie telah dijatuhi hukuman mati kerana menjadi dalang pengeboman itu.
1991 - Borobudur diwartakan sebagai Warisan Dunia UNESCO.
27 Mei 2006 satu gempa bumi berukuran 6.2 skala richter telah memusnahkan Yogyakarta. Bagaimanapun Borobudur terselamat.
Subscribe to:
Posts (Atom)